Selasa, 11 September 2012

Mentari Esok Telah Menanti

Terkadang, terbesit dalam benak gue "kapan kegiatan ini bisa berakhir? kapan yang namanya sekolah itu berakhir? kerja berakhir? dan gue bisa tidur-tiduran, leye-leye di rumah ngerefresh otak yang selama ini terasa semrawut".
Sering rasanya, ketika gue merasa capek pikiran itu melayang-layang dalam imajinasi gue. "Hah, mau tidur aja, hah mau nonton aja", dsb.
Hmm, gemar melamun untuk memikirkan hal-hal yang gak terlalu penting untuk dipikirkan. Betul!
Yeah, masih banyak hal-hal yang mesti, kudu, wajib gue kerjain dan selesain, tapi kenapa imajinasi gue selalu melayang ke sana?
Entahlah.
Gue yakin, gak hanya gue sendiri yang sering berpikir demikian, sosok-sosok manusia di sekitar gue juga pasti ada meski gak semua dan hanya beberapa.
Wajar gak sih? Atau hanya karena dampak dari memperbesar suatu perkara yang sebenarnya kecil?
Hmm, saat keinginan gak tercapai, harapan gak terwujud, lengkap sudah perasaan gundah gulana itu beradu dengan pemikiran waras yang mungkin masih tersisa 50%. 

Dan sisanya?
Udah deh terbang melayang-layang entah ke mana berhasil terbawa jauh oleh pemikiran yang gak seharusnya. Kayak sampah ketiup angin.
Perlahan namun pasti, kehidupan akan selalu menunjukkan perbedaannya.
Ok, dan kini pemikiran gue sangat terbawa suatu arus yang menurut gue itu adalah arus modernisasi otak (gue buat sendiri istilah ini) (dalam konteks; pola pikir) yang menjadikan gue hanya maunya berpikir yang simple-simple aja bak perkembangan tekhnologi yang makin simple. (baca:Hp cina touchscreen).
Tidak adanya lagi batasan pemikiran antara satu masalah dengan masalah lainnya.
Wah, campur aduk dong? Sangat menantang, tapi membingungkan memang.
Kesadaran gue beradu pada kisah menantang di depan sana.
Yaa, masa depan gue masih panjang dan hangatnya juga sinar mentari pagi telah menanti gue di sana.
Saatnya untuk terus melangkah, jangan bimbang gundah gulana seperti kelakuan sosok tak bertanggung jawab yang mungkin pernah mengusik kisah panjang gue yang telah lalu.
Memang awalnya gue gak mengerti alasan Tuhan menghadirkan sosok "gue" bagi orang-orang di sekitar gue.
Tapi, seiring waktu berjalan Tuhan memberi kepekaan dan semakin membuka mata hati gue untuk melihat karya-Nya yang ajaib.


Kalo boleh jujur, sebenernya gue pun gak mengerti apa yang gue tulis ini.

Berguna atau nggak, yang pasti gue mengaplikasikan dulu dalam bentuk tulisan.
Sedikit lega..

Gue sadar kok, masih sangat labil, ya memang beginilah kenyataannya.
Gue merasa kehidupan labil gue sudah diisi dengan kisah-kisah perjalanan hidup yang sangat istimewa gue rasa, yang sangat menantang, dan pastinya untuk bekal pada masa kejayaan di masa yang akan datang.
Oke lah, hidup untuk maju seperti layaknya tentara yang mau berperang. Posisikan diri di bagian depan dan jadilah pemimpin, jangan yang dipimpin. Saat menjadi pemimpin itulah keteguhan dan dedikasi sangat diuji. Integritas kehidupan menjadi salah satu syarat terbentuknya kehidupan yang berkualitas.


Hey! Kalian punya pendapat lain? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar