Selasa, 26 Maret 2013

Memilah dan Memilih, Hal Mutlak Dalam Hidup

"Kamu mau ke mana?" apa yang mesti dijawab dari pertanyaan pendek itu? Ketika lo udah berbeda selera dan berbeda rasa sama apa yang tadinya pengen lo pertahanin banget. Di tengah jalan, dengan gampangnya terbawa angin lewat yang udah jelas cuma sesaat. Padahal sangat konkret terlihat dari postur tubuh lo yang seharusnya nggak mudah terhempas angin. Tubuh lo menggambarkan batapa sangat berisinya tubuh lo itu. Tandanya, udah banyak asupan gizi, protein, karbohidrat, dan sebagainya yang berhasil masuk dan bertahan dalam tubuh lo.

Ok, bukan mau mengulas tentang gizi, protein, karbohidrat, dan temen-temennya itu. Masih mau bahas sedikit sih tapi, saat makanan yang lo asup nggak bergizi seimbang, apa yang terjadi dengan perjalanan kebugaran tubuh lo itu? Jawab sendiri.

Kita semua tahu, kalo cinta yang didasarkan pada komitmen, itu hebat banget. Itu juga berlaku buat kita anak-anak muda. Tapi, jangan sampe menyalahkan arti cinta itu sendiri. Meski terkadang cintanya anak muda masih diidentikan dengan "cinta monyet". Lo akan tahu arti cinta, saat lo berani terjun ke arena cinta itu sendiri. Sebenernya nggak boleh dipermainin, haram hukumnya! Tapi, kenapa jaman sekarang banyak orang yang dicap 'mempermainkan' padahal pelakunya sendiri nggak merasakan bahwa dia udah atau bahkan 'sedang' bermain? Ya, karena saat lo lagi suka, sayang, atau bahkan cinta sama lawan jenis lo, lo pasti akan terbawa arus yang secara nggak sadar menjadikan lo layaknya seorang anak kecil makan permen. Polos. Lo enjoy saat cinta itu masih ada, tapi ketika permen lo habis (re: cinta dari pihak lain itu udah nggak ada buat kita), lo bakal gimana? Mewek? Minta ditambahin lagi? Atau lo mau ngadu ke orang tua lo? Atau malah cari ke tempat lain di mana stok permen (re: cinta) yang baru pasti akan ada lagi? Hak kalian ya mau pilih yang mana. Sama seperti tubuh, jiwa yang nggak terasup cinta yang seimbang, tentunya akan menemukan beberapa titik kesuntukan. Bukan suntuk, apa ya kata-kata yang pas?

Untuk orang seperti gue, pastinya gue akan membiarkan permen itu habis. Gue nggak mewek, minta tambah, ngadu ke orang tua, sampai bahkan pergi ke warung untuk dapetin permen yang baru/lain. Sampe bener-bener saatnya, gue harus, karena memang sangat butuh makan permen yang serupa atau beda rupa itu lagi (menghempaskan perasaan 'tak seharusnya' itu ke lubang yang udah gue gali dalem-dalem). Banyak alesan yang bikin gue nggak seharusnya mewek, minta-minta, ngadu, atau bahkan cari cinta itu dengan berkeliling sampe dapet. Memang ada saatnya untuk seperti itu, tapi bukan sekarang.

Alesan pertama, tentang mewek. Gue punya Tuhan. Allah, Bapa, Kekasih yang luar biasa banget! Kenapa harus mewek? Dia lebih dari segalanya. Dia yang udah ijinin gue memiliki cinta. Cinta kepada orang tua gue, cinta kepada kakak-kakak+adik gue, cinta kepada sahabat-sahabat terbaik gue, cinta kepada sesama di bumi, dan cinta kepada alam sekalipun. Dia pemilik segalanya. Dia juga yang berhak ambil segalanya yang ada di gue. (Ok, ini dramatis banget). Dari yang gue relain buat diambil, sampe yang nggak rela sekalipun. Tuhan selalu kuatkan gue!

Alesan kedua, tentang minta tambah. Gue selalu dapetin cinta dari Tuhan yang nggak gue dapetin dari dunia. Kasihnya dunia itu semu, Ibaratkan sinetron, banyak yang manipulatif. Kasihnya dunia itu menuntut dan bersyarat. Sedangkan kasih-Nya Dia, nggak bersyarat. Semua orang bahkan dikasihi sama Dia. Hanya seringkali, sikap manusiawi, duniawi, ego, dan dosalah yang membuat kita kurang 'merasakan' cinta dahsyat-Nya itu. Tuhan nggak pernah ngasih batasan dalam mencintai gue dan kita. Yang jadi masalah adalah, manusianya sendiri justru yang menjadikan tranfusi cinta-Nya itu jadi terbatas. Salah satu faktornya, saat kita ragu mikirin masa depan. Kan kata Bapa, kita nggak usah mikir sesuatu hal yang melebihi batas dari yang seharusnya kita pikirkan diwaktu sekarang. Karena, semua udah dipegang dalam tangan-Nya. Kata-kata manis-Nya itulah yang selalu buat gue belajar untuk nggak minta-minta kepada cintan dunia. Justru, biar gue lah yang memberi cinta itu. Menebar kasih buat sesama.

Alesan ketiga, tentang ngadu. Gue selalu punya Tempat Curhatan yang pastinya nggak hanya gue yang punya. Tiap hal, tiap apapun itu, ayok deh biasain komunikasi sama Tuhan. Meski sebenarnya, curhat sama orang tua pun sangat perlu. Tapi, bisa memilah sendiri lah mana yang perlu dicurahin dan mana yang enggak.

Alesan keempat, tentang cari cinta ke tempat lain. Itu identik dengan orang yang nggak mau sepi. Nggak harus selalu dipandang negatif. Karena mungkin itulah pribadinya. Ingin selalu ada temen paling deket secara konkret yang bisa dijadikan tempat menabur dan menuai perasaan, dan sebagainya. Namanya juga makhluk sosial. Tapi kalo dipikir-pikir, masa depan dipegang sama Tuhan. Kalo pun saat ini lagi ngerasa kehilangan, dsb, jangan langsung disimpulkan dengan sikap ragu. Kalo lo takut, berarti lo nggak percaya kalo Tuhan sedang menjaga 'masa' itu dong?

Jaga diri lo baik-baik. Tetep fokuskan diri lo ke masa depan. Selagi masih muda, nikmatin masa-masa hubungan intens lo sama Tuhan, nggak ada salahnya kan? Dia sang empunya waktu, jangan takut kehabisan stok waktu buat jalanin aktivitas hanya karena lo lagi/mau berdoa sama Dia. Solusi utamanya, percaya, percaya, percaya sama Tuhan! Masa depan ada di tangan Dia. Nggak ada yang tahu besok, lusa, dst.


Jam 15.38 di kamar ternyaman.

Sabtu, 23 Maret 2013

Tak Tik Tuk Suara Kehidupan

Semenjak ketercutian ide demi ide yang konon selalu terpancar dari kepala ini, banyak kalimat-kalimat mesra berlalu lalang yang menyelinap di telinga gue. Namun, hanya ada satu yang benar-benar gue cerna. Yaitu kata beliau. Cekidot.



Tetangga sebelah yang selalu menggrayangi aktivitas gue dengan kata-kata diskriminasi nan halus namun sangat terasa menyesakkan bagiku.

Mulai aja dah. 
Banyak banget cerita seru yang udah sering kita alamin. Terkhususkan untuk anggota "BangSat Community" yang udah sering banget juga gue bahas di sini post-post gue sebelumnya (penamaan itu hanya sekadar penamaan, bukan untuk membatasi jaringan antar gang atau menganggapnya sebagai sengketa pertemanan dengan gang lain). Sebenernya agak bingung mengenai apa yang mau gue bahas di sini. Karena udah jarang kumpul, jadi nya agak ling lung, kembali ke masa-masa polos gue yang nggak ngerti apa-apa. Gue dipaksa buat nulis. Yak! Nulis apa? Masih belom terlintas topik yang asoi nih. Hoam. Intinya, sosok 'pemaksa' itu dulu nya pernah pipisin gue sewaktu gue masih di dalam perut nyokap. Sewaktu gue udah tumbuh besar di rahim nyokap. Seenaknya dia digendong sama nyokap, dan terjadilah hal yang tak seharusnya terjadi. Sempet terasa anget seketika, kemudian hilang kehangatan itu ketika beberapa waktu kemudian gue lahir. Emang jitu banget itu pipisan-nya si mbak dindul (begitulah panggilan akrabku kepadanya) sampe-sampe mempengaruhi waktu untuk memajukan jam lahir gue yang konon menjadi sejarah penting dalam kisah hidup gue. Di mana untuk pertama kalinya gue menghirup udara segar di dunia (jaman dulu) yang nampaknya apabila diteliti semakin hari terasa kian sempit. Dan tak jarang sudah banyak menyandera insan-insan muda yang keburu terpatri dalam kisah romansa. Ngomong apaan sih gue?! 

Oh iya baru inget. Ada sejarah yang gak terlupakan sepanjang masa deh atas tembok yang menjadi perbatasan antara rumah gue dengan rumah dia. Ada satu pintu yang konon menjadi sumber pemasukkan individu bagi pihak keduanya. Maksudnya, seorang individu dari rumah gue bisa masuk lewat situ, begitu pun sebaliknya. Nampaknya si kedua pemilik rumah telah membuat perjanjian regional. Di mana, antara dua kubu tersebut saling diuntungkan. Kalo mau main pun tinggal lewat pintu itu, tanpa harus keluar gerbang. Kadang, hal itu hal yang gue sombongkan. Ketika 3 temen gue yang rumahnya gak ada tembusan pintu 'rahasia umum' harus keluar gerbang untuk sampai di rumahnya, gue dengan segera menembus saja. Cepet sampe. Itu manfaat utama. Hahaha. Gak jarang juga, kalo ada sodara dia yang gak bisa masuk ke rumahnya karena pager diselot, pada lewatnya ya rumah gue itu. Sudah banyak kaki-kaki yang berhasil menjamah, memijak, menggrayangi keramik-keramik lantai teras rumah gue. Dengan penistaan tersebut, sudah pasti kestrelilan harus menjadi perhitungan. Mengingat teras rumah gue selain berfungsi sebagai beranda rumah, juga sangat bermanfaat untuk tiduran santai sambil nikmatin semilir angin yang asalnya dari samping rumah. Pake tiker dong pastinya. Kadang gue pake koran :"

Sebenernya, alesan utama didirikannya pintu itu sih, karena dulu pas jamannya aa' dia dan mas gue masih kecil (lebih tua mas gue 3 tahun), seringnya manjat-manjat tembok pemisah yang ada di antara rumah gue sama rumah dia. Karena kasihan, akhirnya muncul inisiatif dari si pemilik kedua tembok untuk bikin pintu aja. Untuk memudahkan transfer mentransfer anggota keluarga. Awalnya dulu pintu itu cuma setinggi leher orang dewasa, sampe akhirnya berubah menjadi pintu layaknya di penjara sampe sekarang. Bayangin sendiri ya.

Oh iya ada ciri khusus buat kita berlima, kita ada 5 anggota (yang ini gue buat-buat sendiri kata-kata '5 anggota' nya biar lebih dramatis) dan ada beberapa anggota baru yang mungkin bakal jadi penerus kita :') (apalagi ini). Kelima anggota lama itu dari dulu belom pernah gue temuin ngegabung sama anak gang lain yang sering kita temuin dan liat kalo lagi kumpul. Khususnya gang sebrang, depan, belakang, dsb. Bukan gak mau berbaur, hanya aja kita ngerasa kalo kita beda aliran. Anak-anak gang gue alirannya gaul tapi tau batas, gaul tapi tetep pada jalurnya. Bukan berarti anak gang lain berbelok sih. Hanya aja, mungkin kalo yang belom tau seluk beluk gang gue, kita terkesan introvert tapi sebenarnya ekstrovert juga kok. Paling uptodate mengenai permasalahan kucing piaraan Lia sama Ayu (kakak adik) yang tiba-tiba hamil tanpa tau siapa bapaknya.

Hah. Semangat banget buat jadi penerus bangsa nih! Semangat buat udem yang mau UN! Ayo kita buat forum "Pray For Udem" ! Kita pasang CCTV di ruangan pas udem lagi UN. Terus kita nobar videonya dan bikin album dokumentasi detik-detik pengerjaan soal UN udem. I love you!



NB : Buat temen-temen yang butuh temen curhat, boleh hubungi orangnya langsung (Dinda Mang Gaharu Manis) di nomor 0857xxxxxxxx. Beliau adalah yang daritadi gue ceritain sekilas mengenai kekerjasamaan regional yang terjalin antara pemilik rumah gue dengan pemilik rumah dia. Yang kian mendesak gue buat nulis di post-post blog ini. Dia orangnya asik banget kok. Friendly dan keibuan. Bahkan dia bisa berperan juga sebagai seorang nenek. Nggak pelit, rajin nabung, (nggak) baik banget pokoknya! Dijamin nggak nyesel kalo jadiin dia partner atau assisten rumah tangga. KELOP! 


Senin, 18 Februari 2013

Jambore Sahabat IM3 2013

Posting gue kali ini, gue mau cerita tentang pengalaman mahal yang gue dapet selama 2 hari lalu tepatnya tanggal 16-17 Februari 2013. Hah, gak terduga banget deh sebelumnya gue dan salah satu temen sekolah gue ditunjuk guru buat ngewakilin sekolah untuk ikut acara Jambore Sahabat IM3.
Ahh surga banget gak sih? *oke ini lebay*
TKP bertempat di Eagle Hill Outbond Megamendung, Bogor. Silakan disearching sendiri. Yang pasti tempatnya asoi banget, bagus banget buat poto-poto. Tapi sayangnya gue ga bawa kamera buat poto. Dan gak lupa, kabut selalu tebal di sana. Karena berhubung lagi sering ujan juga di sana. 

Petama-tama, gue disuruh dateng buat isi data diri gitu di gallery im3 nya di karawaci. Awalnya kita kebingungan buat cari kakak kelas yang mau dijadiin tukang ojek, eh jangan tukang ojek kesannya gimana gitu. Hm, cari kakak kelas buat anter kita berdua ke gallery im3. Berhubung gue masih belia dan polos, gue masih belom berani buat bawa motor sendiri tanpa SIM dan sebagainya. 
Akhirnya sampailah pada saat yang berbahagia, salah satu guru gue bersedia buat anter. Tapi cuma ada 1 motor, dan temen gue yang satu lagi gimana? Dia gak ikut ke gallery. Agak gak enak awalnya pergi sendiri meski sama guru, tapi rasanya kan beda kalo ada temen. Enjoy aja lah. 
Dengan berbekal surat rekomendasi dari kepsek dan kertas alamat TKP serta rasa capek yang berkelebihan, gue mencoba untuk tegar. 

Langsung aja kali ya. 
Di sana, semua peserta disuguhin permainan-permainan outbond yang menggoda. Gak lupa juga kita disuguhin makan terus. Banyak kompetisi yang udah antusias di jalanin, eh akhirnya gak menang juga. Tapi itu gak jadi halangan kita gak untuk jadi gak semangat dong. Di sana, bener-bener jiwa kita dilatih buat kerja sama di dalam kelompok, solid sama temen kelompok, dan saling leader me-leader. Bercanda-candaan dari hal yang penting sampe gak penting. Gak kenal jadi kenal. Gak deket jadi deket. Yang tadinya belom berani akrab jadi akrab sampe pegang-pegangan tangan, sender-senderan, dsb (untuk cewek). Awalnya gue mikir, secara gue orangnya agak mood-mood an jadi takut kalo tiba-tiba mood gue lagi terbang, gue jadi gak bisa gabung seru-seruan sama yang lain. Tapi nyatanya, dibalik ke mood-mood an gue itu, tersimpan secercah harapan yang tak palsu. Hah! Gak bisa diungkapkan kata-kata banget deh untuk jambore 2 hari kemaren. Bener-bener amazing. Gak cuman pernah nonton di tipi-tipi aja buat ngerasain petualangan keren, gue pun jadi pelaku di petualangan keren itu sendiri. Apalagi pas river journey. Waaaaahhh sampe pipis di celana pun gak bakal ketahuan ya. 

Dan sekarang, Tuhan ijinin gue buat jadi Duta Im3 2013 nih. Puji Tuhan banget gak sih? Iyalah pasti. Ok, dengan segenap hati, segenap jiwa, gue akan selalu kerjakan yang terbaik buat apa yang udah Tuhan percayakan ini. Dahsyat banget buat segalanya!!! Pokoknya pengalaman gak terlupakan. Di mana kita yang tadinya berbeda-beda, bertemu dan disatukan menjadi satu. Kita semua sahabat!!! Mungkin postingannya kurang menggelegar ya, mungkin karena gue masih lelah. (alibi).

Sahabat IM3??!! SENYUM!! (jari ngetril, CERIA!! (senyum kuda pamer gigi), SEMANGAT!! (jari kaki dikepal eh tangan maksudnya).

Berikut berupa poto2 penampakan selama aktivitas di sana yang boleh gua cibet dari salah satu akun penghuni twitter komplotan isat @doniefine . Cekidot gan

Permalink gambar yang terpasang
Permalink gambar yang terpasang
Ini games yang menghalalkan untuk mengusir orang dari kelompoknya. Memikirkan diri sendiri sangat dianjurkan dalam games ini. Rebut-rebutan orang juga silakan. Jangan rebutan hati ya asalkan.

Permalink gambar yang terpasang
Lagi pada nunggu sembako jatoh dari gunung ya? 


Permalink gambar yang terpasang
ini kompetisi dihari kedua. Memperebutkn poin 10 bagi team yang berhasil buat menara dari sedotan, yang gak roboh saat ditiupkan pake matras. Wusssshhh!! Alhasil, kelompok gue gak berhasil tuh. Hiks

Permalink gambar yang terpasang
Ini games pos-posan. Buat yang berbody singset, dimohon kesediaannya untuk dilayangkan diudara. Hahaha

Permalink gambar yang terpasang
Yang ini performance dari kelompok "Im3 Holiday". Mendadak bo'! :|

Permalink gambar yang terpasang
Ini kakak-kakak senior duta im3 2012 yang sangat dituakan oleh yang masih muda. Hehe

Permalink gambar yang terpasang
Ini kompetisi di hari kedua juga. Untuk memperebutkan poin 30. Yang akhirnya diulang kembali oleh seluruh team, setelah 3 team yang diduga sanggup bertahan itu gagal mempertahankan keasoi-annya dalam melompat-lompat. Tetap semangat ya!!


Permalink gambar yang terpasang
Kemanisan semua nih paras-parasnyua. Ihiy!




Permalink gambar yang terpasang
Jogetnya udah maut. Tapi, tahun depan, kudu dimautin lebih lagi ya ceman-cemans! Gotik, Golum, Goyang inul juga okey banget tuh kayaknya. Cucok deh. Hidup #SahabatIM3Tgr #JamboreIM3Tgr !!


Permalink gambar yang terpasang
Bisa ya pada narsis di sungai. Berasa bidadari dan bidadara yang tersesat dari kahyangan.

Permalink gambar yang terpasang
Ini pas audisi fasttrack Duta IM3 2013. Wajahnya udah pada kuyu tapi semangatnya tetep membara bagai api kompor gas 15 kg.

Permalink gambar yang terpasang
Wah curang team gue. Foto gak ajak-ajak. Tripledate tuh. Selamat ya!

Permalink gambar yang terpasang
Waaaaaahhhhhhhh. Brrr dingin ya.


Permalink gambar yang terpasang
Wahhhh! Merindukan moment-moment ini! Congrats for DutaIM3Tgr 2013 yang baru! Mengabdilah untuk negeri tercinta ini dan untuk #SahabatIM3Tgr tercintah!

Permalink gambar yang terpasang
Okay, team narsis sedang beraksi. Selamat ya guys! Hahaha

Permalink gambar yang terpasang  Namanya juga semangat. Meski hujan badai alang melintang, namun semangat tak pernah goyah atau patah sekalipun. #SahabatIM3 --> #Senyum #Ceria #Semangat !!



Yang paling membahana dan "edeh" kalo kata Bundo Sandy. The most Attractive #JamboreIM3Tgr 2013 @EagleHill-Puncak Bogor. Amazing broh! Dia dapetin pulsa 500rb dari kemenangannya itu, tapi gak mau bagi-bagi rejeki ke temen-temennya (baca: gue). Congratssss ya Mr. So Sexyhh"

Permalink gambar yang terpasang
Ini dia penampakan yang paling ditunggu-tunggu sejagat raya. Bundo Sandy yang konon selalu memberi makan berupa kata-kata amazing kepada anak-anak duta lama. Hm, sepertinya ada mangsa baru. Waspadalah para duta baru. Hahahahaha. Makin mempesona dengan pose ala manohara nya ini. Edeeeeehhh!!


Timakacih temen-temen #SahabatIM3 yang udah rela memampangkan wajah-wajah polos kalian di kamera. Selalu bersiap sedia mengikuti acara demi acara waktu #JamboreIM3Tgr. Rindu masa-masa itu. Kalo Tuhan masih berkehendak, tahun depan kita jalan-jalan lagi. Gak usah tunggu tahun depan, sekarang pun juga bisa. Tetep bersilaturahmi ya. Lucu saat inget berangkat keadaan bis masih sepi, adem ayem, aman, dan terkendali. Giliran pas pulang, langsung rusuh, kisruh, dan sebagainya, so pada runtuh semua deh benteng pertahanan kekalemannya.  Itu keren coy! Buat kakak-kakak duta senior, kita butuh uluran tangannya ya kalo adek-adek yang konon masih belia ini membutuhkan pertolongan berupa doa, wejangan, maupun duit. Hahaha.
Buat team yang belum berhasil, tetep semangat! Ini soal harga diri men!

Thanks a lot to : Bapak ..... , Kak Sandy, Kak Catur, Kak Acep, Kang Ijul yang menduduki topscore the most asoy man kedua setelah Kak Sandy (beda tipis sih), Kak Bagus, Kak Nurul, Kak Doni, Kak ......, Kak ........ Astaga, gue lupa! Maap ya pak dan kakak-kakak. Saya pasti akan inget nama bapak dan kakak-kakak sekalian sesuai dengan waktu dan saat yang tepat. Semangat yah! Semua pasti indah pada waktunya :')

Sulit ngungkapin keseruan di sanaaa.. Pokoknya mantap. Lebih dari mantap deh.
Moga tahun depan gue, elo, dan kita semua bisa join lagi di jambore... Pasti!!!

NB : Buat adek-adek cilik yang tahun ini masuk SMA/SMK yang sekolahnya ada kerja sama dengan isat, tahun depan join yuk buat jadi penghuni baru di Duta Im3 Tangerang. Asik loh event-eventnya. Tentunya, kita bakal dapetin beragam benefit yang diberikan indosat secara cuma-cuma alias gak keluar hepeng, duit, uang, atau biaya sedikitpun. Jangan malu-malu, tapi malu-maluin aja. Itu udah ketetapan alam kalo kita udah  termasuk di dalamnya. Hahaha. Buat temen-temen yang tahun ini kelas XI jangan khawatir, kita masih bisa join kok. Kan umur masih belia B-) 

Rabu, 09 Januari 2013

Apa Masalahnya? "Dia" Adalah Jawaban

Nah! Sekarang gue lagi, lagi, dan lagi terjebak dalam keadaan, situasi, kondisi, suasana, atau apa pun itu yang gue gak terlalu mengerti. Entah kenapa perasaan dilema, ya hal-hal yang mungkin gak seharusnya gue jajaki, lebih tepatnya "gak perlu" namun nyatanya telah terlanjur gue terjun ke dalamnya. Mestinya gue peka sama keadaan waktu awal, semestinya gue bisa mencegah jiwa dan raga gue untuk tidak berada dalam keadaan ini. Sebenarnya gue pun gak tau asal nya dari mana suatu kondisi yang terasa gak mengenakan ini. Berawal dari mana? Gue gak tau.

Liburan kemaren, gue nikmati masa-masa Natal & Tahun Baru hanya di rumah. Berbagai kesibukkan di gereja yang selalu buat gue terhibur. Agak sumpek sih rasanya, gue kira gue gak bakal sanggup dan hampir kehilangan pikiran jernih gue ketika gue harus menghabiskan waktu yang bisa dibilang "kesempatan bagus" itu hanya di dalam rumah. Namun nyatanya, gue mendapat banyak pelajaran dari berbagai cerita maupun kejadian yang terjadi yang asalnya dari sekitar gue. Salah satu pelajaran berharga, ketika gue gak keluar rumah sehari aja, itu udh membantu pencegahan kulit gue terkena paparan sinar matahari yang katanya kayak ibu tiri gitu deh. Jahat. Ibarat gak cuci piring sekali aja langsung disabet-sabet, dijambak-jambakin, dan sebagainya. *hiperbolah sekali.

Awal tahun ajaran baru, gue masuk sekolah baru beberapa hari yang lalu. Pas nyampe depan kelas, gue udah cengar-cerngiran sendiri setelah kepala gue menoleh sedikit ke arah kelas lebih dahulu sebelum kaki gue menyusulnya. Masi beberapa bangku belom ada yang nurunin, tandanya si empunya kursi belum dateng. Gue langsung pelukin temen yang saat itu sangat terjangkau oleh gue setela sebelumnya gue menurunkan kursi gue dari meja dan meletakkan tas gue di atasnya. Gak terlalu berbeda si keadaannya dengan tahun lalu. Gue pikir, hari pertama masuk di semester 2 itu belom belajar. Masi santai-santai. Karena yang gue denger dari temen-temen yang beda sekola sama gue, di sekola dia itu seperti itu. Terbukti dengan bunyi bel pukul 7 tepat. Tapi, sampe jam 7.30 si guru yang harusnya ngajar saat itu gak dateng-dateng juga.
Makin baagia la gue beserta temen-temen gue. Pelajaran-pelajaran berikutnya pun begitu. Meski ada satu guru yang mungkin awalnya berniat ingin ngajar namun melihat situasi dan kondisi mental anak-anak yang masih belum stabil *gila* jadinya dengan gaya sebabas mungkin berhasil ngeloyor melewati kelas kami dengan seksinya. Bisa dipastikan, guru tersebut memang sebenarnya gak ada jadwal ngajar di kelas gue. Ya memang.

Pulang sekola, kelas gue dihebohkan dengan pengumuman buat latian tari untuk pesta Natal di sekolah gue sabtu nanti. Bisa dibayangkan dong betapa hebohnya setiap siswa dari berbagai unit yang ada di sekolah gue saling berlomba melatih diri agar tampail maksimal saat ari H. Akhirnya gue pun memili untuk ikut latih tari Tor-Tor yang konon asalnya dari pulau Sumatera itu. Sedangkan gue? Yang gak jelas asalnya dari negeri antah-berantah ini dengan langkah tak gontai mencoba tiap gerakan demi gerakan yang ternyata dipimpin oleh temen sekelas gue pindahan dari Medan. Asik juga. Gue memang gak ada basic di adat Sumatera itu, tapi gue cukup seneng bisa mengenal adat sana. Gue gak ada pengalaman sebelumnya untuk tari-menari adat apalagi yang bukan dari negeri asal gue, tapi gue seneng.

Back to topic, gue ada dalam sikon yang gue gak ngerti, perasaan gue haus banget rasanya. Dan gue sadar, mungkin efek dari gue yang akhir-akhir ini rasanya jadi terbatas bua ketemu sama Tuhan. Bukan Tuhan yang menjauh dari gue, melainkan gue yang membatasi nya sendiri. Tanpa gue sadari. Ya bener. Terkadang manusia terjebaknaya ya karena itu. Dengan berbagai kesibukkan yang kita punya, dijadikan alesan buat menunda buat bertemu, bertatap, berbicara sama Tuhan. Padahal, Tuhan gak minta seharian kok kita buat kusyhuk berdoa sepanjang hari. Memang ada baiknya begitu, tapi Tuhan mengerti, sangat mengerti keadaan kita. Gak ada salahnya selalu mencampur tangankan Tuhan dalam setiap aktivitas kita. Gue masih harus membiasakan buat ngobrol sama Tuhan. Sewaktu gue kecil, sering banget setiap apa pun yang gue mau gue doain. Sampe sekarang pun begitu, tapi sadar gak? Semakin gede jarak kita sama Tuhan semakin terasa. Maka itu penting banget buat kita terus menjaga keintiman relasi kita yang uda terljalin baik sama Tan tetep dijaga ketat. Gue masi suka keras kepala. Itula yang sering membuat gue jadi samar-samar dan kabur akan suara Tuhan. Contoh kecil aja, gue mau beli cilok. Jajanan yang gue tunggu lama akhirnya dateng juga. Duit yang seharusnya gue pake buat ongkos ke sekolah, gue mau gadein buat beli cilok dulu. Karena gue yakin, besok pasti bakal dikasih lagi sama bokap atau nyokap gue. Oke, bagus. Itu namanya pengharapan, gak khawatir akan hari esok. Tapi gue salah, sebelum beli gue tanya dulu sama Tuhan. "mendingan beli apa nggak ya, Tuhan?". Hati gue hopeless banget pas tiba-tiba hati gue lebih terarah ke "jangan beli" tapi padahal gue pingin banget. Gue udah peka nih kalo itu pesen dari Tuhan, tapi tetep aja hati jahat gue ngebantah itu. "Besok juga dapet duit lagi". Jadi permasalahannya adalah soal uang yang seharusnya gue pertahanin buat investasi ongkos besok. Tapi akhirnya, abang cilok keburu pergi dan gue gak jadi beli. Itu suatu pesen Tuhan. Pikiran gue jadi pendek cuma gara-gara cilok. Makanan gak bermutu yang gak ber-SNI itu. Tapi bikin mupeng.
Ketika keesokkan baru gue mengerti kenapa Tuhan gak ijinin gue beli itu cilok, bokap atau nyokap gue gak bisa ngasih gue duit di hari itu karena satu dan lain hal. Akirnya gue jadi mikir sendiri, "andai aja kemaren...","coba kemaren gue..." dan sebagainya.
Ya, maksud Tuhan memang gak terduga. Makanya setiap kegagalan yang mungkin lagi kita alami, jangan langsung dipandang gagal. Itu bukan kegagalan, tapi suatu maksud Tuhan yang belom terlihat. Rencana Tuhan yang lagi dalam proses penunjukkan ke kita.

Ya, itu hanya sebagian contoh kecil yang gue yakin gak hanya gue yang alamin. Dalam berbagai aspek, perkara kecil macam itu gak luput dari kehidupan manusiawi kita. Tinggal gimana kita arus pabdai memilah dan memilih. Jangan kejebak sama perasaan yang kita anggap adalah suara hati kecil. Semua butuh "hikmat", ya "hikmat". Entah kenapa gue seneng banget sama kata-kata "hikmat".

Tuhan yang gak hanya seorang gue yang mengenal dan percaya, itu emang dasyat! Gak ada yang menandingi. Membuat gue selalu hanyut di dalam-Nya. Selalu aja cinta-Nya ngalir di dalam diri gue, hidup gue, keluarga gue, keluarga hidup gue, dan kita semua. Jangan sungkan deh buat ngobrol terus sama Tuhan di mana pun dan kapan pun kita ada. Bingung sama pelajaran? tanya aja sama Tuhan. "Kok ribet ya, Tuhan? Kasih tau jalan gampangnya dong Tuhan", misalkan begitu. Tuhan itu Temen, Sahabat, Sohib, Kakak, Bapa yang siap sedia di samping kita. Tapi jangan jadiin "ngobrol" buat tempat berkeluh kesah dan jadi nyerah jalanin hidup. Bijak dalam bertindak.

Setidaknya, post kali ini adalah sebagai pengiburan untuk anak-anak Tuhan yang kangen disegarkan. Jangan takut sama rencana Tuhan!


Selasa, 18 Desember 2012

Berlalu-lalang

Seberapa sering elo menjadikan diri lo bukan sebagai diri lo sendiri? Seberapa mudah mengubah persepsi lo terhadap suatu barang yang tadinya lo liat bagus kemudian setelah jatoh dan menjadi hancur?
Tapi kemungkinan, hal semacam itu nggak semudah mengubah laksana hati yang nyatanya masih suka keras untuk terus mempertahankan suatu hal yang sebetulnya udah di ambang pintu. Ada angin lewat pun, kemungkinan untuk keikut terbang sangatlah besar.

Sering perkataan yang terlontar darinya, gak membuat sosok pejuang dan pesetia gontai lalu mundur. Menyerah? Bukan gaya nya sekali. Sosok itu ialah Oliv. Yang menjadi siswi SMA sebuah sekolah di daerahnya. Dengan berbekal hati yang masih cukup dibilang belia, ia bersiap-siap maju dan mencoba mempelajari apa yang sedang dihadapinya. Dia kepincut dengan seorang sosok laki-laki tampan, manis, dan "wow". Laki-laki itu nyatanya terpaut 7 bulan di atasnya. Anggap saja selang 1 tahun kemudian setelah laki-laki itu lahir, baru Oliv lahir. Berbeda sekolah, itu yang terkadang menjadi batasan bagi mereka berdua untuk bisa saling bertemu. Hanya ketika dalam forum komunitas yang kebetulan telah berhasil mempertemukan mereka saja lah yang kadang menjadi tempat "lepas rindu" yang buktinya lebih banyak menjadi saksi kebisuan mereka berdua ketika saling bertatap wajah.

Tak banyak basa-basi, sosok laki-laki pendiam nan cool itu bisa dibilang tak terlalu menyukai hal yang berbau "berlebihan" yang nyatanya sering ia temui dalam sosok Oliv. Si perempuan labil yang baru saja menjajaki masa-masa putih abu-abu nya itu. Namun, tak menjadi alasan untuk si laki-laki melepas rasa yang telah mempersatukan mereka saat ini. Berbagai ketidak cocok-an kini saling berpadu menjadi satu. Justru saling mengayomi satu sama lain, meng-cover-i tiap kekurangan yang ada. Tak menjadi alasan mereka untuk saling abai-mengabai, lupa-melupa, dan sebagainya.

Hal yang sepele pun, terkadang bisa terlihat rumit ketika pikiran mereka telah buyar. Sekalipun terasa sangat sulit, namun tak menjadi alasan serta benteng pemisah bagi mereka berdua untuk tetap berkarya di dalam jurnal hidupnya. "Rasa kesayangan" yang bukan terlanjur atau kebetulan ada pada mereka, sangatlah menjadi    kunci sukses nya mereka menjajaki masa-masa sulit itu. Dengan berjuta perjuangan tak mau terjajah kelabilan sosok cinta yang hadir di antara mereka, bersikap dewasa dan mempelajari satu sama lain, serta cara-cara lain yang lebih mantap dilakukannya lah.

Banyak perjuangan yang tak banyak orang ketahui, yang nyatanya selalu menjadi pondasi keutuhan dan kesatuan hati di antara mereka. Tak banyak mengumbar, itulah perjalanan mereka. Menjadi satu padu, ya itu lah mereka. Tiap orang yang mendengar kisahnya, melihat aksinya, selalu dibuatnya iri. Betapa beruntung Oliv. Betapa beruntung sosok laki-laki itu.

Dengan kisah yang selalu berlalu lalang di hadapan mereka tentang mereka, semakin menjadi kan mereka tangguh. Tuhan selalu menyertai dan memberkati relasi kalian berdua.

*Karangan ini telah sangat ngalor ngidur, tak jelas arahnya. Sangat dikhawatirkan tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Lebih bahaya nya apabila telah sampai pada titik puncak darah penghabisan dan ber-evolusi menjadi butiran debu. Selamanya. Menyedihkan.


Selasa, 18 Desember 202 - 11. 40 pm
Di ruang tivi kebanggaan.

Minggu, 09 Desember 2012

Si Manis yang Kusayang

Gak banyak pengalaman dramatisan yang pernah gue alami bersama dirinya. Namun banyak kisah yang teramat sangat hiperbola yang selalu kami lalui. Entah itu hanya penilaian gue atau otak gue yang kurang pengalaman buat nginget moment saat gue dan si dia sedang beraksi layaknya artis hollywood bahkan bollywood. 

Entah kenapa, ingetan gue tiba-tiba pulih! Inget pas lagi main di rumah gue, kita joget-joget india-an pake properti kain yang digantungin ke belakang leher. Itu akibat keseringan nonton vcd india nya Si Dia. Kita jadi makin atraktif di mana-mana. 


Berawal dari kisah masa muda, belom bisa masuk kategori muda malah. Bener-bener seumur jagung. Awalnya gue dan mbak Dinda (tetangga sebelah gue beda setahun sama gue) kenal sama dia dalam episode yang tidak disengaja. Karena nyokap gue baru aja ngelahirin adek bontot yang nyatanya selama ini selalu setia menjadi partner juga lawan gue untuk beradu dalam ajang smackdown yang dulu selalu rutin kami jalankan di kamar nyokap gue. 
Yap, udah pada tau kan pastinya. Kalo ada bayi lahir, tetangga pasti pada datengin buat jenguk. Saat itu, gue yang akrab duluan ama si Dindul lagi asyik berduaan di teras rumah gue disertai dengan gaya kepolosan seorang anak belom sekolah dengan bermodal pembicaraan yang gak tau ke mana arahnya. Sedangkan nyokap mbak Dindul, nyokap Si Dia, serta ibu2 yang lain sedang asyik meninjau adek gue yang baru beberapa hari ato bulan (gue lupa) sedang merem melek seadanya di atas tempat tidur kamar nyokap gue. Satu hal yang gak perlu kalian tau, dia telah merenggut lokasi ranjau gue. Di mana, itu tempat adalah yang menjadi saksi bisu ketika gue bermimpi kemudian terjadilah hujan deras disertai dengan aroma menggelitik hidung. Tempat bobok anak bayi kan begitu. Agak memakan tempat. 

Gue sih gak sadar kapan kita kenalannya, gak inget juga. Cuman, kalo denger gossip, cerita legenda serta kabar burung yang berhasil diturun-temurunkan dari para orang tua kami, kita mulai kenal pas dia ikut mama nya buat jenguk adek gue itu. Entah dengan memakai jurus apa, selayaknya anak-anak kecil lainnya, dengan rasa penuh kesoktau-an dan kesok bertemanan kami main bersama ketika itu. Namun, pertemanan kami nampaknya hanya akrab saat itu saja. Tidak berlaku untuk kemudian harinya. 
Padahal, rumah mbak Dinda sama Si Dia itu sebelahan. (Rumah mbak Dinda tepat berada di antara rumah kami. Rumah gue sebelah kiri, rumah Si Dia sebelah kanan). Tapi gue terlanjur akrab duluannya sama mbak Dinda. Mungkin karena di antara perbatasan rumah kami ada pintu tembus. Sehingga semakin memudahkan kami buat bisa main bareng tanpa harus keluar lagi melalui pintu pager rumah.

Pas masih zaman kecil (gue udah TK kalo gak salah), dulu ada temen yang kami tuakan/kami anggap sebagai ketua karena memang dia usianya lebih tua dari kami. Tapi dia udah pindah. Hiks. Ke Jakarta, yang sampe sekarang gue belom ngeliat muka nya lagi sebelum sempat terakhir kali dia ke Tangerang untuk memberi undangan pernikahan kakaknya. Tapi, karena memang masih jiwa anak kecil yang mudah terprovokator dan terkontaminasi, terjadilah musuh-musuhan diantara kubu yang satu dengan kubu yang lainnya yang berlaku hanya bagi anak di gang kami. Sebenarnya ada banyak anak sebaya di gang kami. Namun yang lebih sering berkumpul dan bersosialisasi yaitu kami berempat. Shinta, Esty, Dinda, dan gue. Di antara mereka, gue yang paling muda sendiri. Namun tampaknya, kenyataan berkata lain. Semenjak tiap tahun gue ulang tahun, body gue tergolong lebih bongsor di antara mereka. Bongsor dari mana? Yah, mungkin mata dan otak mereka lelah.

Di rumahnya mbak Shinta, dulu ada sedikit lahan yang sebelumnya buat tempat kandang ayam. Tapi udah berubah fungsi menjadi tempat bermain kami. Main rumah-rumahan, pake payung-payungan. Berhubung rumah mbak Shinta tepat bersebrangan dengan rumah gue, gue seringkali gak keberatan buat mencibet payung yang telah bersertifikat atas nama nyokap gue itu buat maenan rumah-rumahan. Asik banget deh! Di depan rumahnya juga ada pohon belimbing, dan mbak Shinta suka manjat pohon itu buat ambil belimbing dan dicocol pake kecap. Gue yang merasa layak untuk berada di tangkringan batang pohon seperti mbak Shinta, mencoba mengumpulkan tenaga serta niat buat ikutan manjat. Tapi apa daya, gue gak berbakat manjat pohon. Apalagi bergelayut atau menari-nari di atasnya. Mungkin, Tuhan tau bahwa jodoh gue bukanlah superman yang ahlinya manjat-manjatan. Ckckckck

Dalam kisah itu, kami suka musuh-musuhan yang sangat tidak jelas asal usul penyebabnya. Tiba-tiba dengan mudahnya gue dibisiki mbak Shinta untuk memusuhi Si Dia yang tidak bersalah. Kami diem-dieman. Ganti-gantian deh. Kubu itu terbagi menjadi 2. Dalam tiap musimnya selalu berganti. Seperti Shinta-Rani vs Esty-Dinda, Shinta-Dinda-Rani vs Esty, Shinta-Dinda vs Rani vs Esty. Ya, gue memang sangat gak bijaksana. Gue takut banget yang namanya dimusuhin ama orang lebih tua dari gue. Padahal ada rasa iba juga ngeliat Si Dia diposisiin kayak begitu terus, tapi gue gak bisa ngelak. Secara, dulu gue melihat sikap kepemimpinan yang paling berhasil memprovokasi gue adalah mbak Shinta. Si Dia? Gak banyak ngelawan ato protes, dsb. Entah karena faktor apa. 

Dulu dia adalah personil yang gue rasa paling tertindas. *Hiks. Maap ya mbak, Dulu gue masih polos, jadi gak tau apa-apa. Hoamm*
Sampe akhirnya, mbak Shinta pindah dan di situlah pintu kesuksesan kami yang cerah terbuka, hati yang suci kembali merekah dan bersinar. Gak ada lagi permusuhan, perang dingin, dan sebagainya yang gak selayaknya ditiru di rumah kalian. Kami mulai akrab lagi, lagi dan lagi *mengenang perkenalan pertama kami*, dengan ditambah 2 personil penghuni gang kami yang selalu setia menjadi saksi bisu kepolosan, kejaiman, sampe kekriminalan kami. Sekarang kami berlima, Si Dia udah lebih dahulu menjajaki bangku kuliah. Emang terlihat gak setia kawan. Karena personil lainnya masih pada putih abu-abu. *Apalagi gue?Paling telat -_-
Tapi yang namanya usia, gak bisa ditahan buat tetep segitu-segitu aja sesuai yang kita inginkan. Sampe akhirnya, tanggal 5 Desember kemaren dia berhasil lewatin masa-masa sweet seventeennya dan sekarang lagi menjajaki masa sweet eight teennya. Jauh-jauh hari gue udah inget itu tanggal. Tapi gak tau kenapa, pas hari H nya yang gue inget hanyalah ujian, ujian, dan ujian. Karena gue lagi UAS saat itu. Sampe keesokkan harinya, gue mendapat bingkisan dari acara di rumahnya. Dan gue baru ngeh, kalo Si Dia abis ultah. Oh my God! *British banget ya gue :$
Nyokap gue tanya gue udah ucapin belom, dengan santainya gue bilang "oh iya belom. Tar lah, gampang." Sebenernya buat nutupin kepanikan hati gue sih. Bokap gue juga langsung nyuruh gue. Gue bilang "iya iya, sama mbak Esty mah nyantai aja. Udah selow-selowan kita mah." Tapi dalam hati gue paling dalem -> Ajib! Gila aja! Gue tega melupakan eh ups ralat! bukan melupakan, tapi kelupaan. Kalo melupakan kesannya disengaja. Gue kelupaan sama hari di mana pertama kali dia napas di dunia ini. Orang yang paling berjasa sampe bikin gue meler idung dan basah mata pas nonton film bollywood We Are Family yang gue copy dari laptopnya. Yang paling tua usianya dibanding personil lainnya. Yang paling gak pernah absen webcam-an. Yang paling jadi andelan kalo lagi pada curhat. Yang paling ngerti saat gue lagi kesel di rumah. Dengan tampang tak berdosanya dia cengar-cengiran ngeliat aksi gue yang suka langsung ngeloyor ngabur pas lagi darah tinggi. Berbagai-bagai suka duka udah kebal kita lewatin. Dari ambek-ambekan, sampe cara penanganan yang udah tau mesti gimana. *Semedi

Gue berniat buat telepon rumahnya buat ucapin, tapi ketahan melulu. Entah dengan alesan apa gue ampe gak jadi-jadi buat beraksi digagang telepon. Tiap kali mau sms, pasti langsung kerasa kayak ada batu ngeganjel di hati gue. Gak rela pulsa gue coy! HAHAHAHA *ketawa jahat!

Tapi akhirnya, sms gue sampe juga kan coy? Meski gak jadi telepon karena gue tau lu udah beranjak dari kotabumi tempat tinggal paling nyaman dan dingin sedunia ini.

Selamet Ulang Tahun banget ya coy! Selamat sukses banget! Panjang umur banget! Sehat selalu banget! Jangan lupa traktir banget! Undangan nikah sama pilot, jangan lupa kirim ke gue banget. Makin dewasa banget lu coy. Mamah lu bakal merasa tersaingi banget tuh gue yakin. Meski gak ketemu beberapa minggu, sekalinya ketemu cuman bentar, kita tetep temenan kan coy? Bentar lagi sertifikat "BangSat Community" bakal keluar kok coy. Lu jadi Ketua + Penasehat, Udem jadi Konsultan Gas Beracun Mematikan, mbak Dindul jadi Pakar Ke-ete-an, Ayu jadi ahli Morfologi Kedunia Mayaan, gue jadi orang sukses + istrinya *neeettt*. => Amin! Hahahaha. 

Sweet eight teen ya coy. Makin berjaya lu, tapi jangan berperan sebagai toko emas maju jaya. Kapan pulang sih? rencana kita nonton bareng gagal kan. Gue "belom" bisa kasih kado ato hadiah yang kayak di sinetron-sinetron gitu mbak. Tapi suatu saat, pasti bakal bisa kok. Yakinin aja deh. Berdoa aja ya. :| Gue tau kok, lu kecewa kan gue ngucapinnya telat? Jujur aja mbak. Gpp kok. Gue sedih. Iya gue sedih. Sungguh teramat sedih. Hikssss *buat ngehibur lu doang

Yaudah, gue gak bisa banyak berkata-kata lah. Gue gak mau dibilang omdo. Gue gak mau dibilang cerewet, dan sebagainya. Gue gak terima kalo begitu. Gue kangen kita berlima kumpul. Pas zaman masih alay, menjadi pusat perhatian anak-anak karang taruna. Apaan banget sih -___-. Ampe gak berminatt buat ngikut lomba 17-an. Yaudah, akhirnya kita berlima lolos lewatin zaman penuh kenistaan itu kan. Zaman sering-seringnya kita main dan nongkrong di depan rumah udem, nongkrong depan rumah si Dindul, sampe akhirnya pindah lagi menjadi depan rumah lu. Hah! Jadi inget pas sepulang gereja, si Dindul mau ngeprint sesuatu, yang nganter mah bejibun. Bawa pasukan. Mantap! Mesti dipertahankan nih spesies kayak kita. Udah keliatan semua, masa depannya cerah. Udah pada pake Pond's kan? 

Sebenernya ini post mau gue spesialin buat ucapan ke Si Dia doang. Tapi malah jadi cerita tembang kenangan begini. Gak kebayang, kalo nanti semua udah pada kuliah. Waktu buat ngumpul sih pasti tetep ada dan harus disempetin. Yang penting berjuang dulu yang masih pada putih abu-abu. Buat mbak Encoy sukses UTS nya! Udem semangat dan sukses UAN nya, mbak Dindul sukses ngegaet hati doi eh salah deng maksudnya sukses sekolahnya, dan Ayu selalu rajin update status ya. Mbak Estoy Dwi Widyastutyoy jangan bocen yah ama culhatan mingguan akoh :3




Sekali lagi --------> "Celamat Uyang Tahuuuuuuuun mbak ku cayang. God bless youu forever. Muachh! :* :* :*"







09 Desember 2012 - 2.15 a.m
Di ruang tengah sambil nonton Real Madrid <3

Selasa, 04 Desember 2012

Kalau Bukan "Kasih", Lalu Butuh Apa Lagi?

Hm, gue gak terlalu paham apa yang bakal gue keluarkan dalam post kali ini. Pasti bakal simpang siur dan ngalor ngidul kayaknya. Ya, pokok pembahasan yang pasti adalah sebenarnya, banyak peristiwa dan hal yang membuat gue merasa bahwa gue sendiri, gak ada yang temenin, bahkan sampe perasaan jahatnya gak ada yang peduliin gue. Emang gak seperti itu kenyataannya, karna gue sendiri pun sadar kalo perasaan itu lahir dari hati yang udah terlanjur suka hiperbola. Bersyukur, harus bersyukur karna kehiperbolaan itu sendiri walau keliatannya sulit diterima dan sedikit membuat parno diri sendiri. 

Sering banget keinginan untuk memotivasi diri itu selalu melekat di diri gue yang masih belia ini, namun praktek memang gak se-simple teori. Motivasi diri, ya itu yang selalu menjadi andalan gue disaat gue merasa sedih. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Pengorbanan untuk berusaha melepas, merobek, menghancurkan, atau berbagai cara-cara yang lebih extream lainnya untuk membuka perekat perasaan negatif yang terlanjur dateng serta merajalela dalam diri gue. Saat gue merasa sendiri, sesungguhnya ada satu hal penting yang bener-bener terpenting yang gue lupain. Ada satu sosok yang gak pernah tinggalin gue, selalu dukung gue apa adanya, gak suka menuntut gue ini/itu, gak over protective, dsb. 

Dilain sisi, ada banyak hal yang bisa saja gue jadikan alasan untuk gue bersungut-sungut ngejalanin hidup. Banyak hal yang sebenernya bisa gue jadikan alasan kenapa gue gak melakukan tugas gue di dunia dengan baik. Tapi saat kesadaran gue pulih bahwa ada Tuhan Yesus yang selalu turut serta dalam hidup gue, gak ada lagi yang bisa gue jadikan alasan mutlak untuk mengeluhkan lagi berbagai-bagai masalah yang nyatanya udah berhasil gue laluin dengan baik. Sebelumnya, sering gue denger temen-temen di kelas gue kalo dia lupa ngerjain PR Matematika misalnya, pasti ada aja alasan "saya sibuk ini/itu pak jadi lupa. Tugas kan bukan pelajaran bapak doang" dan lain sebagainya. Ada benernya juga sih temen gue itu, tapi alasannya kurang begitu mantep karna itu tugas udah dikasih sejak seminggu yang lalu, sedangkan kalo PR-PR lain di hari-hari berikutnya. Ya panteslah kalo itu guru jadi gondok dan terus mencecar "kerjakan pulang sekolah kan bisa". Dengan sikap keanak mudaan yang terkenal dengan gak mau ngalahnya "saya les pak", dsb. Ok, topik bahasan kita bukan tentang PR kok.

Akhir-akhir ini, gue sering melow sendiri. Padahal gue bukanlah tipe orang yang demen ama hal berbau melow meskipun tergantung situasi dan kondisi juga sih. Namun, gue adalah orang yang moody. Gak bisa ditebak deh. Gue melow juga bukan karna tanpa sebab, karna sesuatu yang sepele namun lumayan membuat akibat buat gue. Yah, itulah sisi lebaynya manusia.

Pikiran dan perasaan yang menurut gue udah jahat banget adalah ketika gue membiarkan otak gue berargumentasi dengan lancarnya yang menyatakan bahwa "oke, gue sendiri. Gak ada yang peduli gue. Gak ada yang kepikiran sama gue yang lagi di sini ngerasain kecewa, dan laen-laen." Akhirnya gue sendirian masuk ke kamar, dan sebisa mungkin membuat suara tangis gue gak terdengar ampe kutub utara sana. Membuat gue termenung sendiri, flash back ke doa-doa gue. Gue gak ngerti apa yang lagi Tuhan mau buat di hidup gue. Di perjalanan gue sebagai anak-Nya yang masih muda dan belom banyak pengalaman ini. Saat gue merasa sendiri, ngerasa cuman perasaan ini gue yang rasa, sebenernya itu adalah perasaan egois. Sok-sok pengen dikasihani sama dunia yang terlanjur jadi saksi bisu kemurungan gue. Perasaan itu lebih cocok ada di hati orang yang gak punya iman! Makanya gue sebel banget kalo hati gue suka ngerasa begitu. Kayak gak bersyukur amat ama hidup. Toh, semua orang ngalamin kok, gak cuman gue doang. Justru saat gue ngerasa sendiri, Tuhan lagi nengok ke samping merhatiin dan ngejagain gue. Pas gue merasa rencana dan harapan gue gak terjadi sesuai yang gue mau, sebenernya ada sesuatu yang bentar lagi bakal Dia tunjukkin. Entah itu baik atau nggak. Yang pasti, baik di mata manusia belom tentu baik di mata Tuhan. Gitu juga sebaliknya.

Ah! Gue sebel saat gue beranggapan kalo diri gue gak bisa memotivasi diri sendiri. Buktinya daritadi, kalimat-kalimat yang gue lontarkan di atas adalah sebuah kalimat motivasian. Semangat gue buat terus berjaya. 
Gue inget sama kata-kata temen gue si Veronita yang biasa gue panggil Ve saat di motor pulang sekolah siang tadi, yang kebetulan gue meminta dia untuk nebeng pulang sekolah bareng. Di tengah perjalanan, dia bilang kalo dia merasa hidupnya selalu gagal gagal dan gagal. Hanya kesialan yang ada. Dan jadi pesimis untuk bisa wujudin harapan dia di SMA ini. Yang gue katakan sama dia adalah "lo jangan merasa gitu. Jangan lo membatasi kemampuan yang sebenernya bisa lo capai dengan omongan itu. Dengan pemikiran lo yang seperti itu, tandanya lo udah membatasi sesuatu yang sebenernya bisa lo dapetin." Setidaknya seperti itu percakapan singkat kami yang gue inget dan diteruskan dengan ngobrol kocak pas sampe di depan rumah gue. Mungkin sedikit munafik juga kalo gue gak merasa gitu terhadap hidup. Hanya aja, gue selalu merasa beruntung karna adanya Tuhan Yesus itu. Gue juga sempet bilang kalo "berhasil atau nggaknya sesuatu yang kita kerjain itu tergantung dari cara kita menilai hasil akhirnya. Sekali pun secara mata manusia itu memang gagal. Tapi kalo kita menganggap kegagalan itu bukan lah hal yang gagal, pasti semua bakal sembuh." Ya, agak sedikit mengkutip kata-kata motivasi dari luar. Tapi setidaknya, itu bermanfaat dan buktinya bisa gue terapin ke temen-temen gue.

Inti dari keseluruhan adalah kita harus punya kasih untuk bisa ngerasain kepedulian orang, rasa sayang orang, bahkan untuk ngerasain hadirnya Tuhan dalam hidup kita bahkan untuk memotivasi diri sendiri. 
Gak hanya pada saat memberi, saat menerima juga kita membutuhkan sebuah hal yang dianggap kecil namun berdampak besar yaitu "kasih". Tanpa adanya "kasih" saat kita melakukan penerimaan, gak akan kerasa berhikmat. Gak akan kerasa kalo itu adalah berkat. Hal itu sering kelupaan sama kita kalo kita gak peka akan adanya "kasih" itu sendiri. Seperti saat gue ada masalah dan jadi merasa sendiri, merasa gak ada yang peduli, merasa terbeban banget. Sebenernya itu hanya perasaan terbatas gue sebagai manusia biasa, coba kita gali lagi tentang keyakinan dan iman kita sama Tuhan, pasti gak akan berpersepsi seperti itu. Sekali pun masalah itu gede, gak akan ada lagi perasaan sendiri itu. Sebenernya banyak yang memantau kita, hanya kita gak peka sama "kasih" yang orang lain beri ke kita. Kalo kita mau memberi sesuatu ke seseorang, tanpa "kasih" yang kita beri itu gak akan menjadi berkat bagi diri kita sendiri tapi akan menjadi berkat bagi si orang itu kalo dia menerimanya sebagai berkat dan dengan "kasih'. Tanpa "kasih" pun kita gak akan bisa ngerasa bahwa sebenernya banyak orang yang baik dan peduli sama kita. Seperti halnya, seperti kita tahu kalo Tuhan Yesus selalu ada di saat kita duka/suka, tapi kenapa kita suka gak merasa kalo Tuhan itu ada dengan melihat masalah dari sisi penglihatan kita sebagai manusia yang terbatas? Ya, jawab di hati masing-masing ya. Yang tahu hanya diri sendiri dan Tuhan.
Dan satu hal yang gak kalah pentingnya, keluarga. Iya, keluarga. Yang selalu jadi tempat paling asoi dalam hidup gue. Gue yakin gak hanya gue yang ngerasa demikian. Karna itu udah jadi hal mutlak kalo keluarga bisa dibilang harta paling "wah" di dunia.


Nahkan bener kan! Gue merasa tulisan ini udah bener-bener ngalor ngidul dan semakin gak jelas alurnya. Yang penting udah terluapkan.
Gpp ya, yang penting terus maju dan semangat di dalam Tuhan anak muda!