Senin, 22 Agustus 2016

Manusia! Mengapa Kau Begitu?

Kita semua tahu kalau setiap manusia punya jalan kehidupan yang berbeda-beda. Itu artinya, kita tidak boleh sembarangan menilai sikap dan perilaku seseorang hanya dari kacamata yang kita gunakan untuk melihat. Karena, jalan saja berbeda, tentu alasan dan sudut pandang juga berbeda.
Si A melakukan apa yang menurutnya baik dan benar, tetapi ternyata si B menilai itu tidak baik dan salah.
Kenapa demikian? Karena kita dididik dalam keluarga yang berbeda latar belakang yang meliputi budaya, prinsip, sudut pandang yang akhirnya mempengaruhi tumbuh kembang pribadi kita.
Tapi, bagaimana kalau hal itu terjadi di dalam satu garis generasi yang sama? Ya, namanya juga beda kepala, beda otak, beda pikiran, beda penilaian.
Tugas kita adalah bukan lagi berkeras hati dan pikiran untuk mempertahankan apa yang benar di mata kita untuk bisa diterima orang lain, tetapi kedua pihak harus seimbang dalam menumbuhkan tenggang rasa dan toleransi agar perbedaan itu menjadi suatu kolaborasi yang indah dan dapat dirasakan sesama.
Bukan lagi mengenai aku suku Jawa dan kamu suku Batak, atau aku keturunan Tionghoa dan kamu suku Sunda, melainkan kepada siapa kita akan mempertanggungjawabkan prinsip hidup yang dianut selama di dunia.

Kesimpulannya, berhentilah men-judge seseorang dengan pandangan sepihak kita. Sebelum mengungkapkan, coba telisik terlebih dahulu, 'kenapa ya orang itu berperilaku seperti itu?' dengan bertanya atau cobalah ambil posisi dengan membayangkan kalau kita berada dalam kondisi seperti orang tersebut. Akan terlihat lebih bijaksana ketika kita mampu menilai segala sesuatu dengan melihatnya lebih dekat. Yang lebih penting adalah Tuhan sebagai Sutradara kehidupan memiliki alasan tersendiri atas segala yang terjadi, yang tidak terselami pikiran manusia.
Semangat!
Tuhan Yesus memberkati


Kamis, 03 September 2015

2 Tawarikh 15:7

Helaw, udah lama banget gue pengen ngepost seputar lika-liku masa menuju ke hidup perkuliahan gue.
Gue baru lulus SMA tahun ini
Keluar dengan amat bangga karena akhirnya keluar dari kandang para serigala berbulu domba, yang dapat kita ketahui KKNnya tinggi banget
Gue lulus, tapi tidak dengan nilainya
Nilai-nilai yang kalau dari dekat terlihat do-re-mi, tapi dari jauh terlihat sol-la-si, sempat membuat gue sedikit terisolasi dalam keadaan murung 'tak berdaya.
Nilai-nilai itulah yang kini menghiasi lembar ijazah yang berlaku seumur hidup gue
Kisah ini gak ada awal dan gak ada akhir
Semua mengalir sesuai degan kehendak Sang Sutradara
Jadi, gue sempat terdoktrin dan berhikmat sendiri. Oke, ingatlah akan kalimat ini "Hikmat manusia adalah kebodohan bagi Allah"
Kalimat itu, kalau ditela'ah memang betul
Karena seringkali kita kejebak. Berdoa minta hikmat dari Tuhan, tanpa kita sadar ternyata kita berhikmat sendiri dan jalan pada jalan sesuai dengan kemauan kita sendiri
Setelah gue lulus dan dapet surat pernyataan kelulusan, gue langsung membuat ancang2 ke mana gue akan melanjutkan sekolah
Temen-temen gue udah ppada dapet kampus dari sewaktu mereka semester 1 kelas 3
Dan gak sedikit dari mereka yang berlomba-lomba bernegosiasi sama kepsek untuk naikin nilai raport (lewat jalur raport), atau memanipulasi peringkat dengan minta surat pernyataan peringkat di kelas supaya dapet potongan biaya kuliahan yang gede
Gue? "Hahaha fokus UN dulu ah," begitu pikir gue.
Karena waktu itu gue juga ngincer negeri, jadi gak ada niatan sama sekali untuk minta batuan sekolah yang gue rasa gak adil.
Gue banyak dibully, hanya kerena waktu ulangan-ulangan sekolah gue ga mau nyontek
Gak punya temen, karena dianggap manusia sok suci
Ok fine, gue gak sendiri!
Gue cuma gak mau, gu keluar sebagai lulusan yang gak bisa ngapa-ngapain tapi mau jadi doket, polisi, atau apalah yang keliatannya hebat-hebat
"Gak apa kalau nilai gue biasa-biasa, tapi gue bisa," gitu pikir gue.
Gue sangat berambisi masuk negeri, sampe akhirnya gue ikut seleksi nasional dan mandiri tapi gak lolos dikeduanya
Gue sempet merasa frustasi saat pengumunan seleksi mandiri
Gue bingung dan mulai takut dengan hasil seleksi mandiri yang soalnya terkenal lebih susah dari seleksi nasional
Gue nangis tapi sok tegar dan senyum-senyum depan keluarga
Gue juga bingung kampus swasta mana lagi yang masih buka dengan harga yang gak terlalu mahal
Karena waktu itu kondisinya bokap abis pensiun setahun lalu, adek gue lagi butuh masuk SMA, kakak gue ud married dan tentu urus anaknya, dan kakak gue yang kedua sedang berada pada jenjang karir yang baik namun gue gak terbiasa merepotkan doi
Karena selama ini gue dibiayain sekolahnya sama orang tua, jadi agak ada rasa aneh saat tau bahwa keadaan memaksa biaya sekolah gue selanjutnya ini akan di-cover kakak kedua gue.
Gue bingung, mau cari kampus yang gak mahal tapi bagus, rasanya udah telat
Gue ga punya jaringan kampus-kampus gitu
Sampe akhirnya gue ud putus asa, dan hampir gue ikut tes seleksi mandiri di kampus negeri lain tapi lagi-lagi dengan memilih jurusan yang tidak sesuai talenta gue
Tapi apa? Tuhan mau gue ikut tes di salah satu kampus swasta yang udah berdiri kisaran 60 tahun lamanya dan tentu udah berpengalaman dalam bidang pendidikan khususnya bidang komunikasi
Sesuai yang gue pengen banget!
Tes demi tes gue lalui, ada tes akademik yang terdiri dari matematika dasar, IPA aplikasi, bahasa indonesia, bahasa inggris, IPS terpadu, dan ilmu pengetahuan umum, juga ada tes kesehatan yang terdiri dari tes urin, tensi, tinggi dan berat badan, buta warna, serta ada psikotes yang lamanya minta ampun dan lumayan berhasil bikin mula dan pikiran waut-awutan setelahnya.
Waktu itu gue ditemenin bang Billy, ditungguin dari pagi sampe sore di kampus waktu tes. Aaaaakk, i heart you, bang!!!
Setelah selesai tes, gue berharap-harap cemas untuk lolos
Karena yang gue dengar, kampus itu juga jual mahal sama mabanya
Dari 100% peserta tes di tiap gelombang, akan disisihkan sebanyak 25% sebagai peserta yang gagal
Itu cukup membuat gue lumayan pesimis mengingat persiapan yang kurang maksimal namun agak lebih baik dibanding persiapan seleksi negeri
Tapi Tuhan Yesus baik, dan akhirnya gue lulus pada pilihan pertama dari 2 pilihan yang gue tuliskan di kertas pendaftar
Gue lulus di Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Hubungan Masyarakat atau kerennya Public Relation (hehehehe)
Oke yang bisa gu ambil maknanya adalah, ketika gue daftar di negeri, gue pilih jurusan yang aneh-aneh
Macam filsafat, arkeologi, yang gue tau passing grade nya gak terlalu tinggi di univ itu
Tapi apa? Ketidaklolosan yang gue alami atas seizin Tuhan, justru mengantar gue kepada bidang yang "gue banget"
Memang tidak di negeri, tapi paling tidak saat ini gue sudah terdaftar sebagai maba pada sebuah institut yang gak kalah ciamik deh lulusan-lulusannya
Semoga gue mampu menjadi pribadi yang lebih mampu bersyukur dan beradaptasi dengan lebih baik lagi dengan lingkungan hidup di manapun gue berada

Cintai bidangmu, bukan gedung kampusmu, atau bergengsi atau tidaknya kampusmu. Itulah yang akan membuat kamu bersyukur.
Kampus gak membuat kamu menjadi master, tapi bidangmu yang akan membuat kamu menjadi ahli.
Pesan moralnya, gak usah ngincer nama kampus yang beken dengan milih jurusan yang aneh-aneh padahal gak sesuai bidang/talenta
Bahaya, itu awal dari ketersesatan
Tapi, pikirkan selepas jadi sarjana, mau melangkah ke jenjang karir ke arah mana

Pengkhotbah 3:11 "Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

2 Tawarikh 15:7 "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu."
 Amin.
Tuhan berkati.


Maba IISIP Jakarta
Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
FIKOM-Humas

Selasa, 10 Februari 2015

Rahasia Sang Empunya Kehidupan

Banyak suka duka yang gue alami di masa-masa labil ini. Banyak hal yang menjadi bahan pembelajaran gue pada masa sukar di kehidupan remaja ini. Gak banyak yang gue ungkapkan, tapi banyak yang gue pikirkan. Mulai dari hal kecil, sampe hal besar yang entah apakah sesungguhnya itu adalah hal kecil yang gue besarkan.
Ok, di kehidupan SMA ini bener-bener gue mengalami yang namanya perhelatan batin. Tapi gue menganggap semua adalah berkat. Nggak gampang tentunya. Namun, semakin terbiasa mengalami justru akan semakin membuat diri merasa menjadi orang paling beruntung. Kenapa? Lo bisa rasain, kalo lo ada di posisi gue :)
Cuma nggak habis pikir aja, kenapa banyak orang yang menaruh rasa kesal saat sesamanya nggak melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Analoginya adalah seekor babi yang memaksa sapi untuk terjun berkubang di lumpur yang kotor. Sapi nggak akan mau lah, karena itu bukan habitatnya. Begitu juga yang banyak dialami anak muda zaman sekarang. Absurd. Hanya mementingkan pihak-pihak tertentu. Entah itu baik atau buruk.
Muak dengan segala keluguan yang dipura-purakan. Benci dengan segala ketidakadilan yang diakari oleh sikap nepotisme di dalam suatu lembaga. Lembaga pendidikan. Suatu bisnis menjanjikan untuk sebuah pencitraan, rupanya :)
Sebagai rakyat awam, yang bisa dilakukan mungkin hanyalah diam. Bukan tanpa tujuan. Tentu diam sambil mengamati sudah sejauh manakah nepotisme itu berkembang. Hingga pada waktunya nanti akan ada saat di mana pemberantasan terhadap sikap tersebut akan terkuak, dan pemberontakan terjadi di mana-mana.
Berbanding terbalik dengan pengalaman gue saat mengenyam ilmu bersama masyarakat mayoritas. Dengan pengalaman tersebut, gue banyak belajar tentang toleransi. Toleransi yang merata, tidak berat sebelah. Bukannya menyalahkan, ini hanyalah soal salah paham saja. Salah paham yang diperpanjang dan diperlebar. Melalui kisah hidup persahabatan dan pertemanan yang penuh lika-liku, gue diajarkan untuk berhati-hati. Berhati-hati untuk memberi hati kepada orang yang katanya mau jadi sahabat. Banyak yang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan yang dialaminya. Dan ternyata itulah yang gue alami.
Bersyukur. Sekali lagi bersyukur. Terima kasih tak terhingga karena pada akhirnya Bapa gue di Sorga menunjukkan siapa sosok itu sesungguhnya. Nggak usah disesali, kalo itu membuat dia nyaman, kenapa harus melarang? Bahkan orang tuanya saja justru membebaskannya memilih. Memilih teman.
Bukan masalah politik, tapi terdapat sifat politik yang tertanam di dalam kejadian itu.
Lagi-lagi, Tuhan mengingatkan gue untuk bersyukur.
Banyak hal yang Dia izinkan terjadi di dalam hidup gue. Meskipun nggak ngerti kenapa semua terjadi, tapi Dia selalu ingetin kalo ternyata selama ini gue nggak pernah sendiri. Diri gue lah yang membuat semuanya menjadi terasa sendiri. Manusia. Nggak pernah puas. Selalu minta lebih dari apa yang didapat. Suka nggak mikir kalo minta sesuatu sama Tuhan.
Sekarang, gue serahin semua rencana dan harapan gue setelah lulus SMA ini ke Bapa di Sorga. Gue tau rancangan-Nya terbaik. Dia tahu betul porsi gue mesti duduk di mana. Dia tahu betul kapasitas gue mesti diletakkan di mana. Berserah. Berserah. Nggak berhenti berserah. Gue berharap di sana. Kalo Tuhan sudah berkehendak dan berkata 'jadilah', ya pasti akan terjadilah... Amin.

Senin, 27 Oktober 2014

Jalan Tuhan Bukan Jalanku, Namun yang Terbaik Untukku

Pada postingan kali ini, gue mau cerita sedikit eh banyak deng tentang pengalaman dalam dunia persekolahan gue.

Oke, gue adalah seorang siswi SMA sebuah sekolah swasta di kawasan elit Kotabumi, yang amat terkenal karena letaknya yang amat dekat dengan pusat perbelanjaan sembako, Giant Express. Gue memang polos, tapi tidak tepos. Sekolah yang gue tumpangi sebagai mediasi untuk mengenyam pendidikan SMA selama hampir 3 tahun ini, letaknya tepat di belakang bangunan besar yang plangnya lebih berwarna dibanding plang sekolah gue sendiri. Oke ini gak penting.

Kebetulan, gue SD di sekolah ini juga. Sebut saja sekolah X. Zaman gue SD (2003-2009), tentu bangunan Giant Express yang saat ini menjadi tameng sekolah gue belum ada. Semua masih tanah kosong yang lapang dada #eh!. Bahkan, tidak jarang anak-anak kecil banyak menggunakannya sebagai lapangan futsal ekonomis karena wujudnya yang memprihatinkan. Namun, nampaknya keprihatinan itu jauh lebih meningkat setelah bangunan Giant Express dibuat. Entah makhluk dari mana yang menyetujui pembangunan bangunan tersebut tepat di depan sekolah gue berada. Alhasil, sekolah yang didirikan oleh para suster TMM sejak 20-an tahun silam hampir tenggelam ketenarannya di Kotabumi tercinta ini. Tapi, semoga aja presiden kita yang baru macam pak Jokowi mampu membantu meningkatkan ketenaran positif sekolah tercinta gue kembali. Hehehe...

SD
Dulu, waktu menjelang UN SD gue ngebet banget sama yang namanya SMPN 5 Tangerang. Letaknya di perempatan lampu merah arah ke Kalideres. Entah kenapa, sekolah berlapiskan cat tembok kuning-biru itu dulu bikin gue kesem-sem. Gue sadar, salah satu motivasi gue ingin masuk di sekolah negeri itu adalah karena gue melihat teman main hampir sebaya yang usianya 2 tahun di atas gue sekolahnya di negeri. Lebih tepatnya SMPN 2 Tangerang. Auw! Dengan sikap penuh kerendahhatian atau mungkin kerendahdirian (?), gue memilih untuk berangan-angan bisa masuk di SMPN 5.
Waktu pengumuman hasil UN pun tiba. Gue sungguh amat nggak sabar melihat selebaran yang menyatakan gue lulus dengan NEM ya kalo bisa di atas 30,00 (padahal cuma 3 pelajaran).
Gue sempet deg-degan, waktu acara perpisahan semua anak yang punya NEM >27,00 orang tuanya akan diundang dateng ke acara perpisahan. Ada beberapa anak yang dipanggil, tapi kok gue nggak (?)
Dengan perasaan dengki dan iri, gue menangis di tengah keramaian kota yang usang. Sedih. Dahsyat. Hancur. Halah.
Ternyata, gue dapet NEM 25,30. Ah Puji Tuhan dan harus bersyukur karena paling tidak Tuhan memberikan angka 8 untuk usaha dan kerja keras yang sudah gue lakukan selama ini menjelang UN dan 6 tahun KBM. Ya, setidaknya gue bisa menorehkan angka yang lumayan 'apik' untuk dipertontonkan kepada anak-anak gue kelak. Tapi eh tapi, angan gue untuk masuk ke SMPN 5 Tangerang batal total (bukan gagal! Tolong bedakan antara gagal dengan batal, please!) karena nyokap gak izinin gue sekolah jauh-jauh. Selain karena pertimbangan ongkos, pertimbangan kalo hujan dan macetpun turut berargumen di sana. Gue sempet nangis dalam menentukan pilihan sekolah yang gue mau. Merasa pupus dan lenyap sudah harapan gue. Dulu, gue udah mikir kalo nantinya gue bisa masuk di SMPN Tangerang, kesempatan gue bisa masuk di SMAN Tangerang pun lebih besar. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Akhirnya gue mendaftarkan diri dengan membawa beberapa persyaratan berkas-berkas yang dibutuhkan ke suatu sekolah negeri juga. Ya, paling nggak gue tetep masuk di SMPN 5 lah. Hanya aja, embel-embel belakangnya yang beda. Yang gue ingini adalah SMPN 5 Tangerang, tapi yang Tuhan kehendaki adalah SMPN 5 Pasarkemis. Hehehe...
Tapi nyatanya, Tuhan tetep mempercaya gue untuk bisa terus menorehkan prestasi di sana. Meskipun harus melalui rintangan dan ujian yang cukup berat apabila diukur dengan kemampuan seorang siswi remaja SMP kala itu.

SMP
Saat gue kelas VIII, sempet ikut OSN untuk mata pelajaran IPS Terpadu yang bertahan hanya sampai tingkat kabupaten, yakni kab, Tangerang. Waktu itu tes pertama tinkat kecamatan di SMPN 1 Pasarkemis, dan gue lolos 10 besar. Dari sekolah gue mengirimkan 2 peserta untuk masing-masing mapel seperti Matematika, Biologi, Fisika, dan IPS Terpadu. Di mapel gue, hanya gue seorang yang lolos. Tapi di mapel lain, rata-rata dua-duanya lolos. Tanpa persiapan, karena istilahnya gue adalah peserta cabutan dalam artian mendadak diutus. Alhasil, gue belajar SKS. Lagi-lagi gue bersyukur karena diizinin ngerasain berkompetisi di dalam sebuah kompetisi yang bener-bener kompetisi dan juga disandingkan untuk berperang dengan orang-orang yang jauh lebih pinter dari berbagai sekolah. Kalo gak tau, ya lewatin. Bukan malah nyontek, dsb. Yaiyalah gimana mau nyontek, gak kenal semua. Lagipula di sini kita sedang berkompetisi mempertaruhkan nama baik sekolah.
Sewaktu gue kelas IX, gue juga sempet merasakan yang namanya menginjili. Secara gak sengaja, gue menginjili temen baik gue yang sedang penasaran sama ajaran di keyakinan gue. Ya, meski terkadang gue juga sering terinjili oleh Asma'ul Husna, Wal'asri, daaaan sebagai-bagainya dari mereka yang setiap pagi selalu apel. What a great experience!

SMA
Lanjut, pas gue SMP pengen banget masuk SMAN Tangerang. Tapi gue sadar akan posisi wilayah sekolah gue berada. SMPN 5 Pasarkemis terletak di ujung kabupaten Tangerang, perbatasan antara kota Tangerang dengan kabupaten Tangerang. Miris memang, sangat berasa dianaktirikan sama Pemkot Tangerang kalo kayak gini. Hikssss. Jadi, di kebijakan pemerintah daerah gue, setiap siswa/i yang ingin masuk ke sekolah di Kota yang asal sekolahnya dari kabupaten, akan bisa diterima dengan terlebih dahulu mengikuti seleksi NEM dari masing-masing sekolah. Biasanya, yang diutamakan adalah mereka yang asal sekolahnya memang berasal dari kota itu sendiri. Kalo berasal dari luar kota tersebut, NEMnya akan dipotong sesuai perhitungan yang sudah ditetapkan. Kursi yang mereka sediakan bagi siswa/i dari luar kota hanya 5% saja. MIRIS!
Gue sempet berusaha untuk menginput NEM gue dengan mendaftarkan diri dengan pedenya ke SMA 15 Tangerang. Sekolah baru yang ternyata ramai peminat. Dengan NEM 33,85 gue berusaha memasang tampang tembok saat melihat jumlah NEM di muka map-map para pesaingers gue kala itu. Rata-rata NEM mereka 36 ke atas. Tiba saatnya gue dipanggil untuk input data-data, ada salah seorang guru yang bertugas menginput data mengatakan "kamu yakin mau ngelamar 3 sekolah itu? Di sini aja (SMA 15 Tng) paling rendah udah 36an lho. Saingan kamu kan sama anak-anak kota. Kalo mau, lamar di SMA 10, 13, sama 14 pasti dapet". Gue yang memang dari awal sudah pesimis (selain karena sebel akan aksi curang temen-temen seperjuangan waktu UN), hanya tersenyum mlesam-mlesem denger support nyentek dari bapak itu. Gue sempet mikir apa coba aja ya? Tapi pas gue tanya di mana lokasi sekolah-sekolah itu berada ternyata naujubilah. Ya gak heran sih kalo passing gradenya agak rendah. Karena selain jauh, ada juga yang ternyata letaknya agak ke pedalaman. Meskipun wilayahnya tetep masuk dalam wilayah kota.
Tibalah waktunya untuk pengumuman! Gue udah siapin mental kok takut-takut gak keterima. Dan hasilnya memang gak keterima. Gue memaknai itu sebagai bukan jatahnya gue. Gue imani, sama seperti waktu SMP, Tuhan mau pake gue di tempat lain. Dengan wajah lesu dibahagia-bahagiain kayak orang gagal kawin, gue meninggalkan jejak bisu di koridor SMAN 15 Tng sambil berlari kecil sambil rambut beterbangan ditiup angin nan sepoi. Sambil mengusap air mata, aku berlutut di tengah lapangan sambil menengadahkan wajah ke langit dan berteriak "ku akan menemukan penggantinya!!!" (kayak lagunya Winda, tapi ini versi ke"akan"annya). Drama banget, men! Gak gitu lah!
Akhirnya, gue menjatuhkan pilihan ke SMAK tempat gue menimba ilmu saat ini dan tinggal beberapa bulan lai gue lulus! Gue lulus! Gue lulus! Rasanya gak akan habis cerita yang bisa gue bagikan ke temen-temen mengenai pekerjaan Tuhan yang gak disangka-sangka. Siapa sangka, ternyata di sekolah ini gue sempet dipercaya untuk melayani sesama dengan menjadi waketos, setelah lengser akibatnya gue didudukkan pada sebuah kursi ketos. Sungguh kuasa Tuhan yang bekerja. Gak mudah dapetin itu semua. Dari sekolah ini pula gue dikirim ke Eagle Hill untuk ikut jambore IM3 dan hasilnya gue terpilih jadi 'duta IM3 Tng' dari sekian banyak peserta yang ikut camp.
Saat ini, bentar lagi, akan tiba saatnya gue menitahkan masa jabatan gue ke penerus yang tentunya harus lebih baik, lebih komitmen, lebih loyal, lebih berdedikasi, lebih aktif, lebih lincah, lebih tanggap, lebih cerdas, lebih profesional dari yang sebelumnya. Sama sekali gue gak merasakan malu kalo ada yang mengkritik kinerja gue selama ini. Toh, gue sudah berusaha melakuakan yang terbaik semampu gue. Memang terkadang terbawa ego sehingga gak mampu menyelesaikan suatu pekerjan dengan baik dan tepat waktu, tapi gue percaya dan yakin dengan amat sangat apa yang gue alami ini adalah sebagai bekal masa depan gue entah itu di dunis perkuliahan atau bahkan dunia sosial yang lebih nyata lagi nanti setelah lulus kuliah. Semua yang udah gue timba, entah itu dengan baik atau kurang baik, semua akan menghasilkan yang terbaik kok di mata Tuhan. Entah orang melihat selama ini gue sebagai apa, gue selalu berusaha mampu menempatkan diri gue dengan baik. Di tempat gue menimba ilmu ini, gue mendapat banyak pengajaran tentang moral dan moril, etika dan etiket, serta pengajaran tentang membaca karakter orang an gerak gerik orang dalam berbagai situasi. Untuk punya intuisi yang tajam, bisa dilatih kok. Sering-sering aja berhadapan dengan orang yang menurut kalian menyebalkan, dengan sendirinya tubuh, jiwa, dan roh kalian akan dengan sendirinya mampu mengatasi perbedaan karakter orang-prang di sekitar kalian. Melalui pengalaman yang gak akan berhenti bekerja, cepat atau lambat alam akan menjadi saksi dan menyeleksi siapa-siapa saja yang lolos uji. Mesi seringkali harus ada air mata yang lewat, it's no problem lah...

Intinya, gue selalu punya warna di masa-masa sekolah gue. Di saat gue mau berusaha, tapi lingkungan gak mendukung, atau saat lingkungan sudah mendukung tapi guenya yang kurang usaha. Gue selalu berusaha mengucap syukur dan senyum tiap kali ada kepahitan yang dateng. Berbagi kesusahan dengan temen yang dipercaya, gak membuat makin lemah kok. Justru kadang Tuhan pakai orang lain untuk menasihati kita, untuk menyampaikan kehendak-Nya. Gue imani, melalui kejadian kebatalan gue sebanyak dua kali untuk masuk di sekolah yang gue ingini, Tuhan mau gue terus semangat. Dia mau gue terus inget sama karya ajaib Sang Pencipta Khalik dan Bumi. Gak terpikirkan semua apa yang waktu itu dan sekarang gue alami. Bukan gak mungkin gue tidak menjadi sesuatu atau apa-apa kalau aja waktu itu gue kekeh ikutin kehendak gue masuk di sekolah yang gue 'pengenin'. Tuhan tahu dan akan memenuhi apa yang kita butuhkan, bukan inginkan.
Saat ini, gue kembali sedang berharap sama Tuhan. Sebentar lagi gue akan menghadapi UN beserta personil-personil unyuknya. Setelah itu tes SBMPTN. Gue amat berharap bisa lolos di salah satu PTN yang gue tuju. Tujuannya adalah untuk ngeringanin beban ortu, dan siapa sih yang nggak bangga punya anak, adek, mbak yang sekolah di PTN favorit. Bahkan kalo bisa, gue dapetin scholarship sepanjang kehidupan ngampus gue selama 3,5 tahun nanti. Setelah gelar sarjana gue dapetin, lanjut deh dapet scholarship magister, sampe jadi doktor nantinya. Amin! Intinya sih, berusaha dan berusaha. Jadikan yang lalu sebagai pelajaran. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Tuhan punya hari depan yang cerah dan penuh harapan. Jangan menghalalkan berbagai cara waktu kepepet, nyontek misalnya. Ah meski terkadang godaan itu cenderung menerpa. Udah kelas 3, yang dibutuhin itu bukan sekadar nilai bagus tapi gak bisa apa-apa, melainkan harus bisa apa-apa meski gak apa-apa kalo nilainya gak seberapa. Gue harus yakin, gue pasti bisa! Makasih gak terbendung buat bapak, ibu, mbak ai, mas tian, dek ica yang selalu dukung dek anik buat gapai cita-cita dan selalu nasihatin dek anik!!! Aaaaak! UUUUUIIIIIIII!!! I'M COMING!!!

Satu lagu yang gue favoritkan banget sampe saat ini:

Ada waktu di hidupku, pencobaan berat menerpa
Nantikan Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya
Hari esok tiada kutahu, namun tetap langkahku maju
Kuyakin Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya
Reff:
Pada Tuhan masa depanku, pada Tuhan kus'rahkan hidupku
Nantikan Tuhan berkarya indah pada waktu-Nya

Jalan Tuhan, bukan jalanku
Jangan bimbang ataupun ragu
Nantikan Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya

AMIN............................................
I love RIANNIZA HM Family

Jumat, 10 Oktober 2014

Pembelaan Diri

Halo blogger, sekian lama tidak berjumpa. Rasa rindu yang mendalam tengah melandaku mengiring ide-ide di otak yang terus meronta-ronta ingin diaplikasikan ke dalam sebuah tulisan. Pada kesempatan inilah kiniku mampu mengutarakan aspirasiku selama menjalani kehidupan di dunia putih abu-abu.

Perkenalkan, namaku Lulu. Ya, memang banyak sekali orang bernama Lulu di dunia ini. Tapi perlu kalian ketahui, aku berbeda dengan Lulu-Lulu lain yang tengah menyebar di sekitar kalian.
Aku seorang siswi SMA yang sesungguhnya tidak terlalu tertarik untuk tahu-menahu tentang kehidupan orang lain. Tapi apa daya, kewajibanku sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi di sekolah membuatku harus berbuat demikian. Sebenarnya, perasaan itu muncul baru-baru ini. Pada awal masa tanggungjawabku, aku masih enjoy dan sangat amat peduli. Namun, entah karena satu dan lain hal yang melandaku, perasaan itu mulai muncul. Ya, hal tersebut dibarengi dengan perubahan lingkungan sekitarku yang makin berkelompok-kelompok, hal itu membuat aku merasa terkucilkan dari lingkungan di mana aku berdiri. Untungnya, aku masih memiliki satu orang sahabat nyata yang mampu memahamiku. Lagipula pada kenyataannya, aku masih memiliki banyak jaringan pertemanan mulai dari laki-laki, perempuan, sampai anak-anak kecil yang setiap minggu kutemui dan ternyata mereka cukup menjadi malaikat-malaikat penolongku. Hehehehe.
Aku selalu berpikir, mengapa seseorang ketika berada pada titik terendah di hidupnya, selalu mencari cara untuk membela diri? Sehingga dengan senang hati menghalalkan segala cara untuk membenarkan dirinya di hadapan manusia-manusia dunia yang cukup terkenal dengan kemunafikannya. Mencari sebuah pembelaan kepada dunia, adalah fana menurutku. Maka, setiap kali aku dipandang salah oleh dunia pun aku berusaha untuk tidak mencari pembelaan entah itu dari sekitarku, bahkan dari orang lain yang tidak tahu menahu pasti akan permasalahan yang mungkin aku alami. Biarlah orang lain sendiri yang menilai bahwa aku patut dibela atau tidak. Sebab aku yakin, hanya dengan penyerahan diri kepada Tuhanlah nantinya secara alami akan ada orang-orang berbondong-bondong datang akan menyokongku.

Aku juga selalu berpikir, kenapa bisa ada yang namanya "iri"? Bukankah iri melelahkan?
Setiap orang yang tidak mampu mendapatkan "sesuatu" yang diinginkannya, cenderung mencari berbagai cara untuk menghancurkan lawannya (bisa dikatakan apapunlah, intinya seseorang yang dianggap mengancam kenyamanan hidupnya).
Mata manusiaku memandang, mungkin orang-orang seperti itu hanya "suci" saat ia berada di dalam batas suci rumah ibadatnya (agama apapun), hal tersebut dilakukan sekadar memberi citra untuk menaikkan pamornya di hadapan orang-orang tertentu yang melihatnya. Namun, tetap saja saat keluar dari sana ia akan kembali menjadi harimau bagi sekitarnya.
Yaa, biarlah ini menjadi pengalaman kisah masa SMAku. Aku tidak menganggapnya kelam, karena ini adalah bagian dari rencana Tuhan.

Sekarang, aku tidak mau banyak bicara. Menjadi seorang Lulu yang tengah beranjak dewasa dan lebih senang mengamati tingkah laku orang-orang di sekitar. Entah bagaimana orang di sekitarku berpendapat, aku lebih senang menikmati duniaku sendiri tanpa melibatkan orang-orang 'baik' yang ada di sekitarku khususnya di sekolah. Saat aku merasa terancam, aku tidak mencari kambing hitam. Tapi kenapa dia, dia, mereka seperti itu? Ya, itu pilihan hidup.

Sebagai anak dari pengusaha kelapa sawit di pelosok Kalimantan yang tinggal jauh dari orangtua, tidak mampu membuat nyaliku menjadi kerdil hanya karena mengalami hal demikian. Namun, dengan kesempatan itulah aku terus mengasah mentalku untuk mampu berdiri sekalipun berada jauh dari tiang dan pagar ku (baca: orangtua).

Sekian curahan hatiku, seorang gadis lugu berusia 15,5 tahun yang ternyata menyimpan beragam rahasia dunia yang tidak satupun manusia di dunia ini tahu, selain aku dan Tuhan. Ya, itu rahasia pribadiku sendiri bersama Sang Khalik.

With love, Lulu Pramewaryani.


Jumat, 13 Desember 2013

Pilihan dan Takdir Hidup, Nasib?


Di dalam hidup, seperti pada postingan yang pernah saya posting waktu lalu, di dalam hidup ini selalu terdapat sebuah pilihan hidup yang mutlak dimiliki setiap manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan akal budi yang luar biasa, tentu bukan tanpa alasan yang tidak jelas. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, bukankah itu asalnya dari pilihan hidup juga? Kita memilih untuk memperjuangkan mimpi itu, maka terwujudlah. Begitu pun sebaliknya bila kita lebih memilih duduk diam menunggu mentari yang menghantar kita kepada mimpi itu secara instan. Tentu, kemungkinan terwujudnya hanyalah sebesar biji kuaci. Bahkan bisa lebih kecil dari itu.

Saya teringat pada sebuah artikel yang sempat saya baca waktu lalu. Kesimpulan dari artikel itu adalah, kematian selalu dekat dengan kita. Hanya saja, "waktu" lah yang mempunyai hak memilih siapa yang akan diambilnya. "Waktu" digunakan oleh Tuhan sebagai alatnya yang sangat berharga bagi banyak orang. Tetapi sayangnya, tidak sedikit orang yang tidak bertanggung jawab dalam menggunakan waktunya. Seperti contohnya saya.

Berbicara tentang kematian, bagaimana sih kehidupan kita pada saat mengalami mati?
Apa yang terjadi? Apakah kita mengetahui keadaan orang-orang terkasih kita yang masih ada di dunia seperti pada film-film yang digambarkan dengan adegan seorang yang sudah mati itu bisa melihat dari atas langit?
Kematian selalu dekat dengan kita. Dalam setiap kegiatan kita, aktivitas kita. Bukan tanpa maksud saya menulis tulisan seperti ini, entah kenapa sangat ingin sekali mengungkapkan betapa sedihnya ketika saya membayangkan harus meninggalkan orang-orang terkasih saya apabila tiba saatnya saya harus selesai dari tugas saya di dunia.
Siap atau tidak, semua tergantung pada seberapa erat hubungan karib kita dengan Tuhan. Seberapa jauh kita sudah melangkah di dampingi Bapa kita, saya yakin apabila kita sudah mencapai hubungan yang amat erat dengan Bapa, tidak akan ada rasa takut lagi. Bagi orang percaya, tidak usah takut mati. Saat kita sudah berada pada ujung waktu kehidupan kita di dunia, itu tandanya tugas kita memang sudah selesai. Dan rumah yang Tuhan sediakan di surga sudah siap lengkap dengan bangunan arsitek yang apik dan design interiornya yang indah. Jangan takut ya!

Melankolis sekali keadaan sekarang, hujan gerimis, teduh, mendukung mood saya untuk menulis seperti ini.

Ok ok, daripada sibuk mengurusi dan menggali kesalahan orang lain untuk membenarkan diri kita di hadapan dunia, lebih baik memperbaiki diri. Ketidakhati-hatian kita membawa petaka. Bukan petaka, melainkan konsekuensi. Diam, adalah suatu hal seperti "emas" ketika dilakukan pada saat yang tepat. Dan, tidak perlulah meladeni kicauan-kicauan yang kian memancing emosi. Sebuah konsekuensi datang bukan tanpa syarat dan ketentuan yang berlaku. Mereka datang dari setiap kesalahan yang pernah kita lakukan di waktu lalu. Tetapi semua itu kembali kepada pilihan hidup yang kita pilih. Mau diam atau berbicara? Dari pilihan itulah kita akan menuai sesuatu yang dinamakan "nasib". Dari "nasib" itulah, apabila kita membiarkan "nasib" itu menggerogoti hidup kita tanpa sebuah upaya untuk mencapai perubahan lebih baik, Tuhan akan membentuknya sebagai sebuah "takdir". Dan itu sudah tidak bisa diubah.

Postingan kali ini random. Sungguh random. Tidak jelas arahnya ke mana. Asal keluar saja. Ah sudahlah.
Yang jelas, saya saat ini sedang menjadi sosok "random" yang tidak jelas akarnya. Selamat sore. Selamat pulang dari warnet dengan berhujan-hujanan.

NB: Sambil dengerin lagu "At the Cross" sih, makanya bawaannya jadi melankolis. Hahahahaha. Selamat bersanguinis! Jadi diri lo dong, jangan kebawa lagu.

Senin, 16 September 2013

Absen Kelas Yukk!

Kali ini, postingan gue berisi data-data absurd. Yang menjelaskan berbagai macam sifat dan karakter yang dimiliki oleh kawan-kawan seperjuangan gua di SMA ini. Masa-masa sulit, selalu kita laluin bareng-bareng, seneng pun bareng-bareng. Sampe ke kamar mandi pun bareng-bareng.

Pimpinan kami adalah Ibu Vironika S. Wahyuningsih. Sosok penyemangat dan pemotivasi kami. Beliau mengajar dengan memegang 2 mata pelajaran, yakni Kimia dan Biologi. Pengetahuannya yang amat luas terkadang menjadikan kami tidak selaras dalam berpikir dengan beliau. Tapi, kekaguman kami tiada henti selalu menyertai sosok beliau. Tegurannya yang langsung dan mengena, terkadang menjadi umpatan sesaat. Sempat, kelas kami banyak memenangkan lomba yang diadakan di sekolah waktu HUT RI, kami sadar semua gak luput dari campur tangan bu Vero, terlebih Tuhan. Setia banget dateng mendampingin anak-anak kelasnya untuk ngedekor kelas bareng-bareng. Solid! We love you, Bu Vero!!!
Di kelas gue berisikan 18 makhluk astral dan masing-masing dikaruniai wajah tanpa corak. Hanya pada bulan purnama saja mereka menampakan relief-relief wajah aslinya. Tapi itu juga mesti dipancing pake sajen dulu. Check it out :

1. Angelio Jeremias Silaen
    Manusia berpostur tinggi, kurus, lumayan putih sebagai ukuran laki-laki, berkacamata, ganteng (katanya) dan berbehel ini sangat tidak lain tidak jarang ditemukan dalam keadaan sedang mengu**pil. Pernah suatu kali, saat gue ditugaskan maju untuk story telling, sosok laki-laki yang letak duduknya paling belakang dan kebetulan sebaris dengan posisi gue berdiri ternyata sedang asyik menjelalatkan matanya ke sana ke mari dan nampak jari-jari telunjuknya sedang bermain seru dengan lobang hidung yang tak berdosa itu. Sontak membuat gue terkagum dan akhirnya gue tak kuasa untuk menahan haru dan sedikit geli. Temen-temen gue yang mengerti maksud pandangan gue langsung melihat ke arahnya. Tanpa berpikir penjang mereka mengeluarkan tawa suci mereka akibat kelakuan unik dan anggun temen gue satu ini. Intinya, dia unik. Dia ada untuk menghibur kami. Dia baik kok. We love you, Angelio.....

2. Arna Ririsma Deliana Aritonang
   Wanita muda berpostur tubuh seksi nan imut ini seringkali menjadi bahan cemo'oh ketika gelak tawa yang ia lontarkan sangat amat tidak manusiawi. Meski ia memiliki paras yang cantik, tetap saja mungkin gunung-gunung pun akan beranjak apabila mendengar tawanya. Menggelegarrr!!! Tapi jangan salah, di balik keanggunan tawanya yang lebih persis geledek, ada suara indah nan merdu lhooo! Talenta yang Tuhan percayakan itu, selalu dia asah. Rajin ikut lomba-lomba nyanyi di gereja maupun di sekolah. Dia juga memiliki rambut panjang nan indah yang selalu tergurai kala sang mentari datang maupun pergi. Oh iya, dia baik lhooo orangnya. Setia sama temen pula. We love your voice! Not you. Hahahaa

3. Duma Febryani Sinaga
    Perempuan cantik ini cukup pendiam lhoo di kelas. Ia sedikit terobsesi menjadi wanita Jawa. Bahkan suami impiannya adalah orang Jawa. Tapi apa daya, usianya yang masih belia berhasil mengurungkan niatnya untuk segera menikah. Sebab, iklan pun turut mengatakan bahwa usia minimal wanita menikah adalah 29 my age, eits 21 tahun maksudnya. Dia baik kok, kalem pula. Duma! Jangan diem mulu pleaseeee! Kami butuh suaramu. Hahahahaha

4. Elvina
    Waria eh wanita maksudnya. Wanita cantik, bermata sipit nan elegant yang konon adalah nenek moyangnya para pedagang Pasar Glodok ini berlaku sebagai penghibur di kala kelas mengalami kerisauan akan kegaringan suasana kelas. Suaranya yang berbanding lurus dengan panci jatuh menjadikannya amat terkenal di kalangan tukang ketoprak. Suaranya amat berciri khas, sehingga tidak akan sulit membedakan mana suara tikus kejepit, mana suara dia. Apalagi apabila ia memanggil "bang! bang! bang! bang!". Wih, semriwing! Untungnya, dia memiliki kulit putih dan berbulu tipis. Coba kalau berbulu lebat, masihkah kita mudah membedakan mana yang kudanil dan mana yang Elvina? Jawabannya... MUSTAHIL! Dia baik, tapi terkadang pelit. Gpp, yang penting tetep setia kawan. Hahahaha

5. Florens Septiane Trisnanta
    Nah, cewek lembut dan halus kelahiran darah Jawa ini sempat memiliki kisah cinta yang kurang indah. Rasa cinta yang tulus yang ia pertahankan sejak 6 tahun silam berhasil diruntuhkan begitu saja oleh doi. Miris memang, namun itulah perjalanannya untuk mencapai cinta sejatinya kelak. Gak usah gue sebutin nama cowoknya kan? Jadi, Erry ninggalin dia gara-gara harus pindah ke Kalimantan. Florens termasuk cewek kuat lho, baik pula. Dia gak tunjukin kalo sebenernya dia sedih, padahal kita tahu gimana rasanya di posisi kayak dia seperti apa. Cewek cantik ini sering jadi pentolan di kala ulangan, anak-anak sering menggunakannya sebagai kamus berjalannya fisika, matematika, maupun kimia. Terkenal baiknya. Jadi pengen liat Florens pake baju SD :3

6. Jecsen Setiawan Tulus Sitorus
    Laki-laki imut nan ganteng ini adalah makhluk kebanggaan kelas kami. Logat bicaranya yang khas meski sering direkayasa, menjadi melekat di hati tiap orang yang mendengarnya. Ia sempat menjadi incaran adik kelas. Ia juga sempat menyandang status "in relationship with Marsella". Tapi sayangnya, hubungan itu hanya berjalan 2 bulan kurang 1 hari. Nampaknya, mereka berbeda aliran. Jecsen mengalir ke sungai, sedangkan Marsella mengalir ke danau. Meski dari sumber yang sama. Dia cowok baik-baik lho, makanya hidungnya mancung. Basicnya yang lebih condong ke basket sempat memancingnya untuk beli sepatu basket. Udah beli sih, tapi................................ (yang bisa isi titik-titiknya gue kasih voucher makan).

7. Jessica Valencia
    Perempuan sipit, agak berisi, dan memiliki rambut ini terkenal dengan ke-diam-annya yang amat misterius. Semasa hidupnya di kelas saat istirahat, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan smartphonenya. Agak sulit mendeskripsikannya, sebab ke-diam-annya yang tak kuasa kupendam.

8. Jhosia Jefry Setiawan Waruwu
    Laki-laki ketiga di absen setelah Jecsen. Laki-laki yang memiliki postur tubuh tegap dan besar ini sering menjadi lokasi perkelahian batin anak-anak kelas. Candaannya yang terkenal jayus, membuat ia sebelas dua belas dengan Gayus. Tawanya yang berciri khas terkadang menjadi inspirasi bagi kami untuk menjadikannya ringtone di hape kami, namun semakin hari, kami semakin tahu makna horor yang ada di dalam gelak tawanya seperti apa. Alhasil, kami membatalkan inisiatif kami itu. Konon, sudah ada beberapa wanita yang menjadi incarannya di kelas, namun nampaknya saat ini ia sedang berfokus pada satu wanita saja. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. Ia akan segera melepas status lajangnya. Selamat ya, Jhos! Mari sujud syukur semua!

9. Lastri Tampubolon
    Cantik? Rambutnya wangi? Sebelas dua belas sama tante kunti? Mancung? Mukanya kayak orang india KW 2? Sebut saja dia Lastchild. Hampir setiap makhluk adam yang melihatnya akan kesemsem. Dia baik, cantik, berbadan bagus, berbibir seksi. Ia memiliki masa lalu agak suram sewaktu SMP. 'Lastri yang dulu bukanlah yang sekarang'. Kata temen-temen SMPnya, dulu dia gendut, item, nggak jelas lah wujud wajahnya. Kalo sekarang mah jangan ditanya. Nampaknya dia adalah sosok pelupa, itu dia yang membuat dia cepet move on. Ternyata, orang pikunan itu membawa berkah ya. Huehehehe. Saat ini dia lagi LDR-an sama doi. Doi di Bandung untuk lanjutin kuliah, sedangkan Lastri di sini. Seneng deh pokoknya kalo denger dia cerita tentang si doi. Langgeng eyaak!

10. Leoandro Dosanjo Hale
      Leo. Laki-laki bertubuh seksi ini memiliki banyak teman wanita. Sampai-sampai, ibu yang melahirkannya juga adalah seorang wanita. Menurut kabar burung, dia sedang berada dalam situasi 'tidak jelas' dengan 'pacarnya'. Sosok beruntung mana sih yang berhasil ngegaet hati Leo? Ia sering dipanggil 'oppa' oleh Lastri. Sering menjadi bahan bercandaan anak-anak dan guru, oleh karena celetukan tanpa sengajanya yang terkesan polos. Keadaan hatinya agak sulit ditebak. Dia suka bercanda dikala serius, dan suka serius dikala bercanda. Begitulah sosok Leo, nggak jelas, se-enggak jelas wajahnya. Dia pinter main gitar lhooo. Kalo lagi gak ada guru, biasanya kita nyanyi-nyanyi sambil diiringin gitar sama dia. Suaranya bagus pula. Oh iya, dia punya sebutan khusus dari guru Sejarah, yaitu 'Japang', sebab ia makhluk kelahiran Jawa-Kupang. Hahahaha

11. Marsella Novita
     Wanita kalem bersuara agak berat ini adalah sosok yang pernah mengisi hati Jecsen. Hubungan yang berjalan singkat, mampu membuat mereka menjadi trending topic yang lumayan lama di kalangan anak gaulnya kelas. Dia baik, sampe-sampe ledekan parah nan menyentuh dari anak-anak seringkali hanya ia sauti dengan senyum kuda. Sahabatnya Lastri. Suka dipanggil 'adek' sama Lastri, padahal orang tua beda, lahir pun di tahun yang sama. Mungkin, wajahnya yang lebih muda dibanding Latri lah yang mampu membuatnya dipanggil 'adek'. HAHAHAHAHAHA

12. Narwastu Christ Maharani
     Gue lupa si Narwastu ini orangnya gimana. Menurut kalian, Narwastu Christ Maharani yang punya panggilan horor 'mbak Rani' ini orangnya gimana eyaak?

13. Rapco Tarigan
      Dia baik, royal banget dan katanya mau jadi pendeta, tapi masih ragu. Agak aneh sih. Pernah menjuari lomba khotbah antar kelas waktu kelas 10. Tapi, dia suka pesimis. Apalagi dalam hal cewek. Behhhh! Hahahaha. Semangat Rapco! Tuhan mau pake lu, asalkan lu mau untuk dipake Dia. Semangat!

14. Ruth Agustini Butar-butar
      Mamanya asli orang Bali, tentu gak usah ditanya lagi sudah berapa kali dia bolak balik ke dan dari Bali. Papanya yang berdarah Sumatera dan mamanya yang berdarah Bali menjadikan ia lebih condong mirip mama (menurut gue). Wajahnya sewaktu kecil amat ke-Bali-bali-an. Dia sempat memiliki mantan yang nan jauh di mato. Dia setia lhoo orangnya, LDR dan belum pernah ketemu aja bisa dia setia-in. Apalagi kalo ketemu. Logikanya sih begitu. Saluteee sama dia.

15. Rosalina Ikinresi
     Pecinta India, pecinta Cakka, pecinta pria, pecinta segala. Pernah mejeng bareng penyiar di Classroomnya Staradio. Hidungnya super mancung, tentu akan membuat iri para gajah-gajah liar di luar sana. Sosoknya yang baik, kadang kalem dan kadang bringas, membuat segala makhluk di sekitarnya menjadi terpental-pental. Sampai sekarang, masih misterius siapa laki-laki idamannya yang sesungguhnya. Huahahahahaha.

16. Surya Tirta Prawira
     NO COMMENT!

17. Veronita Sukadir Wijaya
     Memang jodoh! Absen pun bersebelahan. Dramatis sekali. Sosok tomboy tapi aktif di sekolah model. Udah sering pemotretan sana-sini, tapi masalah jodoh? Agak seret kayaknya. Dia cerewet sekali, kata-kata yang dikeluarkan sudah melebihi batas standar ucapan wanita. Ia adalah seorang yang cantik. Ia memiliki kening yang cukup lebar dan pas untuk bermain tenis. Kesehariannya suka bernafas. Dia sosok yang mandiri dan gak suka ngerepotin. Sporty! Dia juga baik. Sosok yang suka menganalisis tentang logika dan cocok sekali menjadi pakar percintaan. Doaku untukmu, semoga enteng jodoh!
   
18. Remond Rifaldy Holle
      Anak baru, tapi sudah cukup membuat ukiran bagus di setiap hati anak-anak kelas oleh karena ke-golden brown-an kulitnya. Suaranya yang bening suka menjadi bahan persaingan halus dengan Leo, kadang bikin guru jadi gak mau masuk kelas. Bahkan kadang, saat lagi nguap aja suaranya tetep terdengar merdu bagai ayam sedang berkokok. Berpostur tinggi, kuyus, item agak banyak, dan keriting tak terhingga ini amat menjadi sosok horor apabila ia berdiri memojok di sudut kelas pada waktu malam dan membuka lebar mulutnya. Jreeeng! Hanya giginya yang terlihat. Tapi dia baik kok, jago basket pula. Udah sering ikut lomba-lomba basket antar sekolah gitu sewaktu di sekolah lamanya. Dan semoga bisa dia cipratin di sekolahnya yang sekarang. Amen. Oh iya, katanya mau ngejagain temen gue pake cintanya gitu. Syemangat eyaak! Mari kita sujud syukur kedua kalinya!

Intinya, kita unik dan berbeda-beda, tapi tetap satu. Satu Tuhan, satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa.
Tuhan menciptakan setiap kita unik, men! Enjoy dan syukurilah!