Jumat, 14 April 2017

Relawan Quick Count Kompas Pilkada DKI 2017

Helaw!
Back to my page!
I would like to share my experience to you! Can't wait!
Oke langsung sajah.

Berawal dari broadcast-an whatsapp group dari temen, iseng-iseng ngisi pertanyaan yang ada di broadcast, dan kirim ke contact person yang tertera.
Seinget gue, isi broadcast adalah untuk menjadi interviewer yang terlibat dalam survei pra Pilkada yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017.
Daerahnya pun terdiri dari JakBar, JakUt, JakTim, JakSel.
Kira-kira 2 bulanan gue nunggu panggilan, gak ada yang ngehubungin gue.
Akhirnya gue memberanikan diri untuk tanya ke CP by pesan whatsapp, nanya kelanjutan dari data yang udah gue kirim sebagai 'lamaran' menjadi relawan Litbang Kompas.
Kata CPnya, mereka mengutamakan mahasiswa yang semester 5. You know? Gue masih semester 3!
Yowis, gue tunggu perkembangan aja deh, nggak ngoyo ngejar supaya gue dipilih. Sadar diri men.

Tibalah pada suatu hari, ketika gue lagi menghadiri seminar di kampus.
Ditelpon CP, dan ditanya bisa join untuk survei di JakUt gak hari ini dan besok (Rabu-Kamis).
Gue kaget, secara Rabu? gue ditelpon hari Rabu, langsung disuruh jalan? Gak bisa! Mendadak gitu. Hiks...
Kamis, gue gak bisa juga karena ada kuliah sampe jam 3an.
Belum perjalanan ke TKP yang bisa makan waktu sampe 2 jam dari kampus gue.
Gue bilang gak bisa dehh... Aslinya sih mau. Tapi, ya mau gimana.

Nahhh, akhirnya tibalah liburan panjang setelah UAS di bulan Desember.
Gue lagi nyantai aja di kamar (kalo gak salah), tiba-tiba ada telpon nomor kantor gitu daerah Jakarta.
Gue coba angkat, seperti biasa nunggu tuh orang bilang halo dulu.
Ternyata, Kompas telpon gue. Ditanyalah apa bener gue daftarin diri jadi interviewer waktu itu, gue jawab iya betul.
Sampailah pada pembicaraan bisakah gue ikut briefing di Kompas (Palmerah) tanggal 12 Februari, info lebih lanjut nanti dihubungi Korlap katanya.
Yaudin, gue jawab bisa, berhubung lagi libur juga. Seneng banget!

Tibalah tanggal 12 Februari 2017, gue pergi bareng temen gue naik kereta dari Tangerang-Duri, sampai Duri nyambung kereta ke arah Bogor (peron 2), turun di Tanah Abang, nyambung kereta lagi ke arah Maja (peron 5 atau 6 di stasiun Tanah Abang), turun di PalMerah, keluar stasiun, tinggal jalan kaki ke arah kiri deh kira-kira 1 KM.
Sekitar 200 interviewer terpilih, hadir di briefing kloter pertama (09.00-12.00 WIB), 200 interviewer lagi di kloter kedua (13.00-16.00 WIB).
Gue masuk di kloter pertama sesuai dengan wilayah pilihan tempat gue akan bertugas nanti. Yaitu Jakarta Barat-Rawa Buaya, tepatnya kawasan padat penduduk di samping kali Krukut.
Hari itu, dijelasin jobdesc sebagai interviewer, bermain dengan sinyal handphone yang (kayaknya sih punya gue doang) bermasalah karena gak connect melulu.
Bermain juga dengan email, dan subject email yang kelihatannya ribet tapi kalau udah terbiasa jadi biasa aja.
Dapet makan, dan uang transport terjamin.
Ada foto dummy juga, jadi kita bisa test kamera, test GPS, sehingga waktu hari H bisa lancar bertugas.

Hari Seninnya, interviewer yang sudah dibrief wajib survey ke lapangan.
Survei TPS yang sudah diumumkan pada saat briefing kemarin.
Ketemu dengan panitia PPSU.
Puji Tuhan ramah dan baik semua.
Waktu itu gue belum ketemu ketuanya karena kerja.
Tugasnya minta data jumlah DPT, foto TPS, dan mencatat CP yang bisa dihubungi terkait pilkada hari Rabu nanti.

Hari H tiba!
Gue dianter bokap.
Sampai di TKP jam 7 pagi, gue langsung menuju TPS, dan sudah banyak panitia di sana.
Gue laporan sama ketua PPSU TPS di sana, mengonfirmasi kalau hari Senin lalu sudah tinjau lokasi dan ketemu dengan panitia PPSU.

Wawancara dimulai jam 8 pagi, mulai targetin orang untuk diwawancara sebentar atau kalau bisa isi kuesionernya sendiri.

Responden pertama gue bapak-bapak, penduduk lama di sana, sudah setengah baya.
Responden kedua gue pemilih pemula, perempuan usia sekitar 17 tahunan.
Responden ketiga bapak-bapak lagi, usia yang juga kira-kira setengah baya.
Responden terakhir, keempat yakni seorang ibu-ibu pekerja usia sekitar 47an, sudah lama juga tinggal di sana, berpikiran terbuka, sangat demokratis, dan tidak mudah terprovokasi. Berdasarkan pengakuannya, nasib pendidikannya gak seberuntung orang-orang yang bisa ngerasain bangku SMP, SMA, bahkan kuliah. Gue salut, karena beliau sangat objektif.
(Khusus responden 4, ibu ini dengan sangat mudah menceritakan hasil kerja calon pilihannya, bangga, dan mengerti kalau calonnya terlibat kasus akibat 'terpeleset' lidah yang akhirnya dibesar-besarkan dan dipolitisasi untuk menjegalnya maju pilkada. Intinya, ibu ini merasakan hasil kerja yang nyata, lain dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Waktu ibu ini cerita, gue merinding dan hampir mata gue berkaca-kaca, tapi gue berusaha banget nget nget untuk tahan. Gak lucu aja lagi ngobrol ehhhh mewek gitu hahaha. Meskipun, dari penampilannya seperti gak mungkin mendukung calon ini, karena menggunakan pakaian 'ciri khas' itu).
Gue berterima kasih Tuhan dalam hati, karena akhirnya nemu pemilih yang percaya diri dan gak takut diintimidasi dalam memilih calon pemimpin provinsinya 5 tahun mendatang.
Karena, dari keempat responden yang gue temuin ini, keputusan mereka memilih gak luput dari alasan-alasan 'sensitif' hasil doktrinasi provokatif yang lagi beredar kayak sekarang ini. Tau, kan?

I finished my job, gue harus kembali ke Kompas di Palmerah.
Waktu itu gue dijemput pacar gue.
Serahin berkas-berkas kuesioner responden dan printil-printilannya.
Dapet makan siang, fee tambahan yang lumayan, dan pulang deh.

Seruuu!
Dan...putaran kedua gue dipercaya untuk jadi interviewer lagi!
Setelah sebelumnya telpon dari kompas sempet kelewat gak terangkat, dan gue udah hopeless karena gak ditelpon lagi.
Mau nepon balik waktu itu, tapi gak punya pulsa.
4 hari kemudian, ada nomor asing telpon, gue angkat, dan dari Kompas.
Gue terima dong pastinya, hehehe

Oke deh, semoga cerita pengalaman ini cukup membantu teman-teman yang sekiranya tertarik menjadi relawan di Litbang Kompas (Quick Count atau Polling).

Dari pengalaman ini, gue belajar mengerti prioritas orang.
Gak sedikit yang saat diminta kesediaannya untuk diwawancara sebentar, beralasan buru-buru, ada urusan, mau kerja, dan lain-lain.
Padahal lumayan, cuma ngisi kuesioner aja bisa dapet goodie bag KOMPAS.
Bahannya kain tebel pula, gue aja pengen.
Halah!
Hahaha...
Oh iya, dari jam 7 pagi, sampe jam 3 gue di TPS.
Lumayan...lelah...tapi...asyik!
Terima kasih Tuhan!

Sekian.

Narwastu Christ Maharani
Menulis ini dalam keheningan malam, ditemani gemuruh kecil suara kipas angin di kamar. Hehehe

Jumat, 03 Maret 2017

Angin yang 'Tak Berembus

Melewati sejuta mimpi adalah sia-sia akhirnya
Melewati sejuta cita adalah keputusan paling bodoh yang pernah ada
Mimpi dan cita, selalu akan indah akhirnya
Kalau saja waktu itu kamu mau menunggu
Menunggu sampai waktu yang tepat itu tiba
Saat kamu sudah siap akan segalanya
Bukannya malah mendahului rencana yang Maha Kuasa

Tapi, kamu juga harus sadar
Bahwa yang telah berlalu ada lah di dalam rencana-Nya
Hanya saja, kesiapan diri yang terlalu belia membuat kamu tiada bermakna akhirnya

Disonansi yang berhasil menembus batas realitas, tak mampu menampik istimewanya kamu
Cerita-cerita lama yang dulu pernah dibaca, kini menjadi rambu dalam menjejak bumi

Bisakah angin terasa meski 'tak berembus?

Ampunilah diri, agar dapat menerima betapa baiknya hidup
Ampunilah diri, agar dapat mengasihi...mengasihi siapapun yang sudah menyakitimu



Narwastu Christ Maharani
(Ketika Jiwa Terhempas Angin yang 'Tak Berembus)
Ini bukan puisi, maka tak berima yang teratur


Minggu, 22 Januari 2017

Menikmati Hidup

Banyak orang bilang, "kamu orang yang ceria", tanpa satupun tahu apa yang sebenarnya terpendam dalam hati dan pikiran.
Benar, menjadi orang yang dikenal sanguinis di lingkungan, menjadi tantangan tersendiri untuk diri sendiri.
Bagaimana bisa seseorang menyimpan kedukaan hatinya untuk menyenangkan orang lain yang juga sedang berduka?
Kenyataannya, itu yang sering dilakukan beberapa orang yang dikenal 'ceria'.
Sampai tiba waktunya, keceriaan itu sirna di balik tembok kamar yang dingin dan gelap.
Kipas angin menjadi saksi dan berperan untuk menutupi suara tangis yang merebak di ruangan.


22 Januari 2017
di dalam kamar yang ramai pengunjung.

Kamis, 05 Januari 2017

Review Buku 1

Selamat malam!
Kesempatan kali ini gue akan mengulas salah satu koleksi buku yang lumayan menjadi favorit meskipun sebenarnya buku ini lebih ditujukan ke temen-temen remaja perempuan usia pubertas. 
Tahun 2017 ini gue menginjak kepala dua. Gak terasa!!! 
Tapi, gue merasa masih perlu untuk belajar, belajar, dan belajar. Iyalah, belajar adalah kegiatan yang gak ada batasnya.

Buku yang akan gue ulas berjudul "girlology" (a girl's guide to stuff that matters).
Hasil gambar untuk buku girlology melisa holmes 
Penulis: Melisa Holmes M. D dan Trish Hutchison M.D
Penerbit: Transmdia
Harga: waktu gue beli Rp 15.000,- di Gramedia Tangerang City bulan November tahun 2013
Tapi, barusan gue searching dan nemuin harga pasarannya rata-rata Rp 45.000,- sampai Rp 50.000,-
Waktu itu, gue beli udah gak segelan plastik buku baru sih, pas gue tanya mbaknya nanya yang baru katanya gak ada. Yaudah, berhubung gue udah sempet baca-baca dikit dan isinya bagus, so bikin penasaran, gue beli dehhh yang penting isinya bagus wehehe. Soalnya, gue memang punya ketertarikan khusus sama buku-buku yang berbau-bau psikologis macam ini. Foto buku ini gue ambil dari google, berhubung hape gue lagi matek dicharge, jadi gak bisa foto langsung deh. 

Buku ini gue beli pas kelas 2 SMA. 
Isinya berupa ulasan-ulasan mengenai kehidupan masa puber perempuan, seperti jenis-jenis teman yang patut dipertahankan dan dipertimbangkan, model-model pertemanan genk-genk an yang kerapkali kita temui marak terbentuk pada masa puber, dan berlanjut sampai dewasa, sampai model didikan orang tua yang terkadang 'bentrok' dengan pola pikir remaja yang sedang dalam masa penyesuaian/mencari jati diri ke'aku'annya juga cara menghadapinya. 

Pada bab pertama lebih membahas mengenai pembahasan dasar masa remaja, kenapa kita bisa ada pada masa ini, dan sebagainya.

Pada bab selanjutnya, buku ini akan membahas mengenai perubahan-perubahan fisik, perluasan kata-kata verbal yang akan banyak dijumpai dalam pergaulan, baik itu kata-kata yang baik didengar sampai tidak baik didengar dibahas dalam bab ini. Tujuannya, supaya kita mampu membekali diri sehingga saat pergaulan yang jelek itu menghampiri, kita sudah siap untuk nendangnya jauh-jauh.
Masih di bab dua, akan membahas banyak hal tentang 'cowok' dan 'seks', tapi semua ini kembali berguna untuk ilmu dasar khususnya remaja perempuan dalam menjalani masa-masa pubertasnya supaya gak tersesat. 

Bab ketiga akan membahas sedikit lebih spesifik mengenai seks, dan cinta monyet vs cinta sejati. Ya, dengan harapan ulasan tersebut mampu memberi arahan khususnya remaja perempuan supaya lebih berwawasan dalam menjalani masa pubertasnya. 

Bab keempat, buku ini membahas mengenai cara menumbuhkan 'girl power sejati'. Ya, kata lainnya innerbeauty.

Semua materi di buku ini dibahas dengan bahasa yang ringan banget sehingga mudah dicerna. Semuanya pun dikupas tuntas tanpa ada unsur menggurui.
Di dalam buku ini, kita akan menemui pembahasan tentang persahabatan, orang tua, seks, seksualitas, hubungan antar remaja, pengaruh media, nilai-nilai, dan pengambilan keputusan.
Dan sekali lagi, pembahasan-pembahasan ini sangat berguna untuk kita-kita khususnya temen-temen yang baru menginjak usia remaja pubertas, ya dikira-kira sendiri aja ya usia berapa.

Okelah, sepertinya cukup ulasan pada malam ini, kesempatan selanjutnya gue akan bahas mengenai buku-buku lain yang gue punya. Gak banyak sih, tapi semoga bermanfaat.

Selamat malam!
Peace, love, and gaul!


Sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=buku+girlology+melisa+holmes&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiHy-r-k6vRAhXJgI8KHYmjCyIQ_AUICCgB&biw=1024&bih=504#imgrc=YQh-crGe33VwkM%3A

Minggu, 04 Desember 2016

Belum Ada Judul

Yap! Selamat pagi semuah...
Pagi ini Puji Tuhan mood gue sedang bagus, jadi ada semangat untuk nulis yang gak jelas lagi hari ini.

Pagi ini seperti biasa gue awali dengan doa dan ucapan syukur ke Tuhan...
Okelah, kita masuk kepada inti tulisan yang gak jelas.

Merenung...
Setiap orang pasti suka merenung. Ya itulah kira-kira yang setiap hari gue lakukan. Khususnya tiap Rabu-Sabtu, saat gue harus berdiri di kereta dan diem aja karena memang gak ada yang kenal sama penumpang lainnya.
Terlalu banyak merenung, jd bingung sendiri. Sebenernya gak akan bingung kalo hasil renungannya itu langsun diimplementasikan dalam kehidupan, tetapi terkadang manusia ada aja alesannya.

Ah iya, tanggal 212 kemarin Indonesia menambah daftar hari bersejarah.. Yak! Aksi Damai 212 (katanya). Bersyukur karena pentolan, 'preman', provokator yang berhasil membuat rusuh di tanggal 411 sudah ditangkap terlebih dahulu sebelum Aksi Damai 212 dimulai. Hasilnya? Tenang, lancar, berjalan dengan baik.

Berbicara mengenai minoritas, gue pun adalah seorang minoritas di negara ini. Yak! Minoritas yang telah diselamatkan.
Enak gak sih jadi minoritas? Ya... tergantung bagaimana kita menjalaninya. Tapi kalo gue pribadi, enak gak enak. Berhubung gue orangnya rada susah bergaul asik kalo lagi sama orang baru.. Nah, kenapa susah bergaul? Karena gue masih mengamati orang-orang baru ini seperti apa, dan sikap apa yang harus gue lakuin supaya gak bentrok. Ya begitulah kira-kira.

Mungkin temen-temen ada yang punya cara beradaptasi lain yang berbeda???
Komen aja......

Senin, 31 Oktober 2016

Curhat, nih?

Halo, guys!

Gue kembali dengan postingan yang gak tau nih mau tulis apa.
Gue hanya sedang merasa lega karena sudah lewatin UTS yang berat menurut gue, tapi enteng menurut orang lain yang gak ngerasain.

Gue gak tau, beratnya karena gue berat-beratin atau memang aslinya begitu.
Yaa, gue bersyukur karena sudah lewatin satu step di semester 3 ini
Masih ada UAS di akhir Desember nanti.

Ya, kampus gue emang paling asyik! UAS setiap minggu terakhir di bulan Desember.
Jadi, setelah itu langsung loss libur 2 bulan.
Alhasil, Natal dan tahun baru tahun lalu gue ga bisa nikmatin banget. Karena kenapa? Tanggal 32 Gue masih masuk, men! Tanggal 1 dan 2 Januari 2016 libur tahun baru, lalu tanggal 3 Januari 2016 gue masuk lagi untuk nyambung UAS.
Seruuuu!
Karena saat temen-temen di gereja atau di rumah pada having fun, gue berkutat sama catetan dan handsout power point dosen.
Berasa profesor. Halah!

Semester ini gue kuliah 4 hari..
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
hari Rabu, Kamis, dan Sabtu FULL!
Jumat doang yang cuma 1 sesi pagi. Jadi, bisa pulang cepet dan kalau dapet keretanya ceept juga bisa sampe rumah jam 2an. Bisa tidur siang!!!
Nah, untuk Rabu, Kamis, dan Sabtu sampe sesi 3. Sesi 3 selesai jam 3 atau setengah 4.
Perjalanan kereta kalau normal 1,5 jam ke Lenteng Agung, dan 2 jam/ebih kalau ngetem di manggarai dan tanah abang.
Jam pulang paing extreme 2 kali gue alamin.
Pertama waktu semester 1, tas jinjing gue yang isinya binder catetan sama buku-buku kuliah ketinggalan di bagasi kereta di atas tempat duduk.
Itu udah malem, jam setengah 7an sampe duri sambil nunggu pacar gue nyamperin buat jemput naik kereta uga di duri.
Lahhh, gue baru inget pas lagi jalan mau nyebrang rel, kayak ada yang kurang.
Langsung inget kalau tas gue ketinggalan, dan kereta udah jalan beberapa menit.
Buru-buru telpon pacar gue, dan lapor ke satpam dan diarahkan lapor ke pusat informasi.
Di situlah gue merasa deket dengan crew KCJ. Karena for the first time gue ngeliat bagian dalem perangkat dan cara kerja mereka yang selama ini cuma gue denger dari speaker toa di stasiun.
Seketika gue pengen jadi entah itu announcer di belakang kereta, atau yang kerja di kantornya, bagian komunikasi..
Hehehe gak jauh-jauh lah ya passionnya dari komunikasi..
Oke, sampe rumah jam 11 malem. Padahal harusnya jam setengah 8 atau jam 8 udah sampe rumah.
Karena tas gue ud kebawa sampe kemayoran, dan gue mesti nunggu kereta yang naujubilah lamanya,
Tapi untung ditemenin pacar, jadi ga sedih-sedih amat, gak capek-capek amat karena ada yang ngajak ngobrol.
Ya, kalau ga ada pun mungkin gue bakal ngobrol sendiri *lho

Nah, pulang larut malem gue yang kedua adalah saat ada kereta anjlok di manggarai.
Itu gangguan terparah yang pernah gue alami. Waktu itu gue sendiri, karena pacar nunggu di stasiun tangerang. Tapi jadinya nyusul ke duri.
Waktu itu gak bisa lewat karena keretanya anjlok di pertengahan jalur dari entah dari arah cikini/sudirman mau ke manggarai.
Intinya, dua jalur mau ke jakarta kota atau ke duri tetep ga bis dilewatin.
Alhasil dari Lenteng Agung, ketahan di Pasar Minggu kurang lebih 2 jam.
Akhirnya sampe di Manggarai, dan gue nyambung ke kereta jatinegara. Dari jatinegara turun lagi, dan bermaksud nyambung kereta ke bogor yang otomatis lewatin duri.
Eh ternyata keretanya cuma sampe kampung bandan.
Nah, ketahan di Kampung Bandan lamaaaa banget karena ga ada kereta yang dateng buat ke duri. Beberapa kereta yang lewat dialihkan ke bekasi, atau jakarta kota.
Sampe akhirnya ada kereta ke duri, dan itu langsung penuhhhh.
Di duri gue ketemu pacar, dan kita pulang!
Sampe rumah jam setengah 12 malem.
Untung besoknya masuk siang.

Okelah, postingan kali ini ga ada kesimpulan tertentu.

Babay!!!

Minggu, 23 Oktober 2016

SADAR

Selama manusia masih berpijak dan bergantung untuk hidup di dunia, tak luput dari yang namanya "ego".
Kalau dalam mata kuliah Psikologi Komunikasi, terdapat 4 aliran psikologis, salah satunya adalah PSIKOANALISIS, maka kita akan dikenalkan dengan  3 komponen yang terdapat pada aliran itu, yakni ID, Super Ego, dan Ego.

1. Pada dasarnya, setiap manusia punya yang namanya "tabiat hewani" di dalam dirinya masing-masing. Tabiat ini masuk ke dalam kategori ID (baca: id).

Apa itu ID? ID berisi impuls agresif dan libinal yang bekerja menurut prinsip kesenangan. ID ini cenderung bersifat egois, kalau sudah parah biasanya cenderung tidak bermoral karena tidak lgi menghargai hak dan tidak mempertimbangan etika. Mungkin, akal dan budinya tertutup oleh egoisnya. 

Contoh kasus dari ID misalnya,
di dalam suatu kelas yang sedang ada KBM (kegiatan belajar mengajar), ada seorang murid yang biasanya duduk di kursi bagian depan. Dia lapar, tanpa pikir panjang dia segera mengeluarkan bekal yang berisi ikan asin, sambal terasi, sayur asal yang dibawakan mamanya dari rumah. Sesegera mungkin dia makan. Lantas gurunya segera menegur murid tsb karena memang belum waktunya istirahat. 
Apa yang terjadi? Justru anak ini membantah dengan mengatakan "kan saya laper. ibu mau tanggung jawab kalau saya pingsan?". 

Dari contoh di atas, sepertinya kita banyak menemukan kasus-kasus serupa meski bukan dalam cerita yang sama. Melakukan sesuatu guna memuaskan diri sendiri, tanpa memikirkan baik/tidak bagi orang lain, yang penting kita selamat dan untung. Tabiat hewaninya adalah ya egois itu. Coba deh perhatikan kucing yang lagi makan. Apakah dia mikirin sekitarnya ketika lagi makan? Apakah dia akan nawarin makanannya ke kucing lain entah sekadar untuk basa/basi atau serius?
Coba deh refleksikan, apakah kita pernah seperti itu?

2. Super Ego yang merupakan salah satu komponen dorongan untuk berbuat kebaikan (unsur moral) guna merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. 

Kalau contoh kasusnya, kita bisa lihat kisah penyanyi Stevie Wonder. 
Dosen saya cerita kalau dulu sewaktu Stevie Wonder masih kecil (SD), di sekolah ia selalu menjadi bahan bully teman-temannya. Stevie Wonder yang terlahir buta hingga saat ini, sempat tidak mau sekolah karena trauma diejek dan direndahkan teman-teman di sekolahnya. Dia sempat gak punya teman karena dia minder. Dia cerita kepada mamanya, dan mamanya bilang "kamu gak boleh mundur. Kamu itu anak mama, anak mama itu hebat. Kamu harus bisa tunjukan ke teman-temanmu kalau kamu tidak seperti yang mereka katakan." Akhirnya Stevie mau untuk pergi ke sekolah lagi. Tiba di sekolah, ia mengalami tekanan lago dari teman-temannya, Dia kembali menangis kepada mamanya, sampai akhirnya mamanya bilang "kamu kan bisa main entah piano/keyboard, kamu bawa aja ke sekolah. Kalau jam istirahat, kamu bisa mainkan alam musik itu.". Stevie kecil mengikuti yang dikatakan mamanya. Setiap hari ia membawa alat musik itu dan selalu memainaknnya sewaktu jam istirahat. Setiap jam istirahat itulah teman-temannya banyak yang mengerumuni dan ikutan menyanyi. Dari situ, Stevie mulai percaya diri karena mulai mendapatkan teman. Sampai sekarang, akhirnya Stevie telah menjadi "orang" berkat motivasi hebat dari mamanya. 
Yang dilakukan mamaya adalah masuk ke dalam kategori SUPER EGO.

3. Ego digunakan untuk menjaga keseimbangan antara tuntutan ID dan SUPER EGO. Ego berfungsi sebagai mediatir hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Prinsipnya adalah Ego menyesuaikan dorongan ID dan Super Ego.

Kalau Ego terlalu dikuasai ID, maka yang terjadi adalah PSIKOPAT. Alhasil tidak memperhatikan norma.
Nah, kalau ego terlalu dikuasai SUPER EGO, maka yang terjadi adalah PSIKONEUROSIS. Alhasil tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan primitifnya. 

Contoh kasusnya seperti ini:
Di sebuah TK ada seorang murid yang dididik orang tuanya untuk selalu mencuci tangan setiap kali sebelum/setelah makan, sebelum/setelah memegang benda apapun. Suatu waktu, di sekolahnya sedang mengadakan makan bersama. Tentu murid-murid tersebut berasa dari keluarga dengan cara didik yang berbeda-beda. Pada saat eksekusi, ia melihat temannya yang langsung mengambil buah apel tanpa cuci tangan terlebih dulu. Bagi si anak itu adalah hal biasa. Tapi bagi si anak yang satu itu adalah hal jorok. Ia lantas menjerit dan mengadu kepada gurunya bahwa temannya belum cuci tangan. Memang baik, tetapi hal itu cenderung menuntut orang lain melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan. 

Kenapa pada postingan ini gue membahas 3 komponen ini?
Karena baru aja gue mengalami ketiga kasus di atas yang tersusun dalam satu kejadian secara sekaligus. 

Banyak orang bilang kalau kita akan mudah tersakiti oleh orang-orang terdekat kita. Nyatanya BENAR. karena apa? Karena kita cenderung lebih sensitif sama orang-orang terdekat. Jadi, waktu orang-orang itu melakukan sesuatu yang gak seperti biasanya, kita kaget. Waktu orang-orang itu gak melakukan seperti apa yang kita lakukan, kita merasa kaget dan buru-buru pengen ngadu tapi gak tau ngadu ke siapa. Nah, ini mungkin masuk ke dalam EGO. 

Ketika diri sendiri mencoba untuk memotivasi diri, mengatakan "aku beruntung" secara terus menerus sampai akhirnya kita menjadi semangat lagi dan mengenyampingkan "luka-luka" yang masih basah, mungkin itu salah satu bentuk dari super ego.

Ketika kita buta, gak berpikir panjang tentang apa yang sudah atau hendak kita lakukan, dan menyakiti orang lain tanpa pikirin keadaan mereka, mungkin saat itu ID di dalam diri sedang aktif. 

Intinya SEMANGAT UTS, NIK!

Oh iya, gue bukan anak psikolog, jadi kalau ada salah definisi dan salah contoh kasus di tulisan ini, mohon bantu koreksi ya, 
Ini berdasarkan materi yang dikasih dosen aja sih. 
Mungkin saya yang salah catet ya hehehe
*peace*