Ok saudara-saudara. Post gue kali ini didasari oleh kesadaran gue mengenai perubahan sifat atau sikap gue yang terjadi akhir-akhir ini.
Entah karena mulai stres akibat tugas sekolah yang terasa tak kunjung usai meski telah usang, atau faktor perubahan dari masa-masa labil tahap 1 menjadi labil tahap 4. Kenapa bisa langsung 4? Karena gue merasa kalau masa labil gue yang nyata berawal sewaktu kelas 1 SMP, tahap 2 kelas 2 SMP, hingga seterusnya.
Gak terasa, 3 tahun melewati masa-masa itu dengan suka dukanya menjadi anak lebay di pinggir jalan. *aduh*
Hm, saat ini gue baru kelas 1 SMA, dan gue merasakan adanya perbedaan kepribadian gue semenjak kelas 2 SMP karena satu dan lain hal.
Awalnya gue adalah seorang yang periang, sangat banyak bicara tak mau berhenti ngoceh karena gak mau tersaingi sama 'esia ngoceh' saat jaman itu, terkenal dengan ceriwisnya, karena dari kecil pun kata nyokap-bokap gue, gue udah menunjukkan kalau gue adalah sosok yang cerewet. Didukung dengan adegan bersenandung-senandung lagu gak jelas kosa katanya setiap gue bangun dari tidur. Setiap apa yang ada di sekitar gue, gue jadiin nyanyian. Pernah suatu ketika, bokap gue verita kalau waktu itu sempat saat bokap sama gue pergi ke pantai karang bolong bersama dengan tetangga gue naik mobilnya yang kebetulan sbeda 1 tahun di atas gue, saat di jalan gue menyanyikan lagu-lagu yang memang gak jelas. Pohon gue jadikan lagu, dan sebagainya.
Balik ke topik!
Di SMP, gue terkenal dengan sosok yang cerewet, galak, lumayan agak ditakuti karena kecerewetannya, dan saat gue kelas 3 gue menjadi sosok yang amat sangat mencintai hal-hal berbau puitis.
Gue dikenal sebagai pakar kata-kata nasehat bijak, namun tidak suka membajak.
Karena suatu masalah yang telah membuka mata hati dan pandangan gue terhadap dunia, gue menjadi sosok yang malas berbicara. Ya sodara-sodara, malas bicara.
Padahal gue adalah sosok yang berasal dari spesies burung beo berdarah jawa.
Yang bikin gue menjadi lebih senang menyimpan opini gue dalam hati adalah, karena gak mau menambah masalah apabila gue mengungkapkannya. Gue tipycal orang yang lebih senang menyimpan sendiri, kalo memang udah gak kuat ya baru dilepas. Dan bener-bener melepas dengan cara cerita panjang lebar ke sahabat gue (Falihatul Ibriza Purnidya Anugrah-sahabat dari SMP).
Entah mungkin karena dorongan dari orang tua dan keluarga ketika badai itu menghampiri gua, lebih baik diam daripada banyak berkata nanti malah dianggap sesumbar mencari belaan. Ya, keluarga gue typical keluarga yang ga demen pamer. Apalagi pamer gigi atau bulu hidung.
Dan sekarang tumbuhlah gue menjadi sosok rani yang baru.
Mungkin untuk orang-orang yang udah mengenal gue lama gak akan sadar akan gue yang sekarang, karena memang masih suka banyak berbicara nmaun hanya momen-momen tertentu aja.
Ga setiap waktu kayak dulu. Oh iya, gue juga dikenal dengan type orang yang supel. Namun, untuk gue yang sekarang nampaknya adalah rani yang lebih suka sendiri meski acapkali kalian bisa menemukan gue lagi ngumpul-ngumpul sama 3 temen gue (Arna, Leo, Jecksen).
Gue yang sekarang adalah seorang 'gue' yang tidak suka banyak berbicara kalau memang hal itu tidak penting, yang selalu memandang ke masa-masa yang akan datang-selalu membayangkan akan jadi apa gue kelak. Entah mungkin perubahan gue ini juga dipicu dengan pernah hadirnya 'seorang' dalam masa remaja gue belum lama pada waktu yang lalu-lalu. Dia adalah sosok yang cuek, an jadilah gue terpengaruh menjadi sosok yang cuek juga. Meski masih dalam standart normal.
Oke mungkin pengenalan terhadap pribadi gue cukup di sini dulu.
Karena gue pun masih dalam tahap pendalaman tentang apa yang benar-benar terjadi dalam diri gue saat ini.
Akibatnya, gue semakin gak mengerti ke arah mana tulisan ini berbicara. Baiklah saudara-saudara, post saya pada waktu ini resmi ditutup. *tok tok tok* (ketok palu).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar