Minggu, 23 Oktober 2016

SADAR

Selama manusia masih berpijak dan bergantung untuk hidup di dunia, tak luput dari yang namanya "ego".
Kalau dalam mata kuliah Psikologi Komunikasi, terdapat 4 aliran psikologis, salah satunya adalah PSIKOANALISIS, maka kita akan dikenalkan dengan  3 komponen yang terdapat pada aliran itu, yakni ID, Super Ego, dan Ego.

1. Pada dasarnya, setiap manusia punya yang namanya "tabiat hewani" di dalam dirinya masing-masing. Tabiat ini masuk ke dalam kategori ID (baca: id).

Apa itu ID? ID berisi impuls agresif dan libinal yang bekerja menurut prinsip kesenangan. ID ini cenderung bersifat egois, kalau sudah parah biasanya cenderung tidak bermoral karena tidak lgi menghargai hak dan tidak mempertimbangan etika. Mungkin, akal dan budinya tertutup oleh egoisnya. 

Contoh kasus dari ID misalnya,
di dalam suatu kelas yang sedang ada KBM (kegiatan belajar mengajar), ada seorang murid yang biasanya duduk di kursi bagian depan. Dia lapar, tanpa pikir panjang dia segera mengeluarkan bekal yang berisi ikan asin, sambal terasi, sayur asal yang dibawakan mamanya dari rumah. Sesegera mungkin dia makan. Lantas gurunya segera menegur murid tsb karena memang belum waktunya istirahat. 
Apa yang terjadi? Justru anak ini membantah dengan mengatakan "kan saya laper. ibu mau tanggung jawab kalau saya pingsan?". 

Dari contoh di atas, sepertinya kita banyak menemukan kasus-kasus serupa meski bukan dalam cerita yang sama. Melakukan sesuatu guna memuaskan diri sendiri, tanpa memikirkan baik/tidak bagi orang lain, yang penting kita selamat dan untung. Tabiat hewaninya adalah ya egois itu. Coba deh perhatikan kucing yang lagi makan. Apakah dia mikirin sekitarnya ketika lagi makan? Apakah dia akan nawarin makanannya ke kucing lain entah sekadar untuk basa/basi atau serius?
Coba deh refleksikan, apakah kita pernah seperti itu?

2. Super Ego yang merupakan salah satu komponen dorongan untuk berbuat kebaikan (unsur moral) guna merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. 

Kalau contoh kasusnya, kita bisa lihat kisah penyanyi Stevie Wonder. 
Dosen saya cerita kalau dulu sewaktu Stevie Wonder masih kecil (SD), di sekolah ia selalu menjadi bahan bully teman-temannya. Stevie Wonder yang terlahir buta hingga saat ini, sempat tidak mau sekolah karena trauma diejek dan direndahkan teman-teman di sekolahnya. Dia sempat gak punya teman karena dia minder. Dia cerita kepada mamanya, dan mamanya bilang "kamu gak boleh mundur. Kamu itu anak mama, anak mama itu hebat. Kamu harus bisa tunjukan ke teman-temanmu kalau kamu tidak seperti yang mereka katakan." Akhirnya Stevie mau untuk pergi ke sekolah lagi. Tiba di sekolah, ia mengalami tekanan lago dari teman-temannya, Dia kembali menangis kepada mamanya, sampai akhirnya mamanya bilang "kamu kan bisa main entah piano/keyboard, kamu bawa aja ke sekolah. Kalau jam istirahat, kamu bisa mainkan alam musik itu.". Stevie kecil mengikuti yang dikatakan mamanya. Setiap hari ia membawa alat musik itu dan selalu memainaknnya sewaktu jam istirahat. Setiap jam istirahat itulah teman-temannya banyak yang mengerumuni dan ikutan menyanyi. Dari situ, Stevie mulai percaya diri karena mulai mendapatkan teman. Sampai sekarang, akhirnya Stevie telah menjadi "orang" berkat motivasi hebat dari mamanya. 
Yang dilakukan mamaya adalah masuk ke dalam kategori SUPER EGO.

3. Ego digunakan untuk menjaga keseimbangan antara tuntutan ID dan SUPER EGO. Ego berfungsi sebagai mediatir hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Prinsipnya adalah Ego menyesuaikan dorongan ID dan Super Ego.

Kalau Ego terlalu dikuasai ID, maka yang terjadi adalah PSIKOPAT. Alhasil tidak memperhatikan norma.
Nah, kalau ego terlalu dikuasai SUPER EGO, maka yang terjadi adalah PSIKONEUROSIS. Alhasil tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan primitifnya. 

Contoh kasusnya seperti ini:
Di sebuah TK ada seorang murid yang dididik orang tuanya untuk selalu mencuci tangan setiap kali sebelum/setelah makan, sebelum/setelah memegang benda apapun. Suatu waktu, di sekolahnya sedang mengadakan makan bersama. Tentu murid-murid tersebut berasa dari keluarga dengan cara didik yang berbeda-beda. Pada saat eksekusi, ia melihat temannya yang langsung mengambil buah apel tanpa cuci tangan terlebih dulu. Bagi si anak itu adalah hal biasa. Tapi bagi si anak yang satu itu adalah hal jorok. Ia lantas menjerit dan mengadu kepada gurunya bahwa temannya belum cuci tangan. Memang baik, tetapi hal itu cenderung menuntut orang lain melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan. 

Kenapa pada postingan ini gue membahas 3 komponen ini?
Karena baru aja gue mengalami ketiga kasus di atas yang tersusun dalam satu kejadian secara sekaligus. 

Banyak orang bilang kalau kita akan mudah tersakiti oleh orang-orang terdekat kita. Nyatanya BENAR. karena apa? Karena kita cenderung lebih sensitif sama orang-orang terdekat. Jadi, waktu orang-orang itu melakukan sesuatu yang gak seperti biasanya, kita kaget. Waktu orang-orang itu gak melakukan seperti apa yang kita lakukan, kita merasa kaget dan buru-buru pengen ngadu tapi gak tau ngadu ke siapa. Nah, ini mungkin masuk ke dalam EGO. 

Ketika diri sendiri mencoba untuk memotivasi diri, mengatakan "aku beruntung" secara terus menerus sampai akhirnya kita menjadi semangat lagi dan mengenyampingkan "luka-luka" yang masih basah, mungkin itu salah satu bentuk dari super ego.

Ketika kita buta, gak berpikir panjang tentang apa yang sudah atau hendak kita lakukan, dan menyakiti orang lain tanpa pikirin keadaan mereka, mungkin saat itu ID di dalam diri sedang aktif. 

Intinya SEMANGAT UTS, NIK!

Oh iya, gue bukan anak psikolog, jadi kalau ada salah definisi dan salah contoh kasus di tulisan ini, mohon bantu koreksi ya, 
Ini berdasarkan materi yang dikasih dosen aja sih. 
Mungkin saya yang salah catet ya hehehe
*peace*

Senin, 03 Oktober 2016

PERBEDAAN SMA DAN KULIAH

Selamat malam, semua!
Kali ini gue mau berbagi beberapa hal berkaitan dengn masa peralihan dari jenjang SMA ke jenjang kuliah, posting-an ini tentu sangat berguna buat kalian semua yang mau gak mau harus segera beradaptasi dengan dunia kampus.

Kalau sudah masuk ke dalam dunia kampus, tentu akan sangat berbeda dengan dunia sekolah. Dimulai dari tenaga pengajarnya, tugas-tugasnya, mata kuliahnya, sampai tenaga dan effort yang harus kamu kerahkan untuk meraih gelar sarjana. Tentu, jangan membuat orientasi kuliah hanya sekadar untuk mendapat gelar, tetapi lebih dari itu...karena nantiya kita akan menjadi orang tua, tentu kuliah akan banyak sekali merubah mindset dan perspektif kita terhadap dunia. Maka, semakin tinggi jenjang pendidikan yang kita enyam saat ini, maka semakin berkualitas pula generasi-generasi bangsa Indonesia di kemudian hari. Ingat! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Amiiiin.

Tetapi, untuk kalian yang belum bisa rasain bangku kuliah, juga harus tetep semangat! karena kualitas diri seseorang nggak harus dinilai dari pendidikannya, tapi wawasan dan attitude. Wawasan bisa didapet di mana aja, asal kita mau untuk menerima. Karena pengetahuan nggak hanya didapet dalam dunia akademik aja, tetapi di segala aspek kita akan selau berhadapan dengan yang namanya pengetahuan. Nahhh, atitude lah yang akan menjadi tolok ukur orang itu beretika atau nggak. Orang pinter, cerdas, jenius kalau nggak beretika siapa yang mau temenin, sih? Temen mungkin ada, tapi siapa yang mau menghargai?

Oke, berikut akan gue ulas singkat perbedaan SMA dengan kuliah. Check it out!
1. Gedung
Bagi beberapa universitas/institut gedung perfakultas memang dipisah-pisah, seperti UI, IPB, dll. Tapi, nggak jarang juga kok kampus yang fakultasnya gabung. Sepeerti kampus gue, IISIP Jakarta semua fakultas belajar pada satu gedung yang sama. Yang membedakan hanyalah mata kuliah, ruangan, sesi kuliah, dan dosen yang mengajar. Bagi sebagian universitas/institut/setara menerapkan sistem moving class, tetapi ada juga yang stay class jadi modelnya kayak waktu sekolah. Maksudnya adalah temen kelas tetep sama, hanya matkul, ruangan, dan dosennya aja yang berbeda. Nah, di kampus gue menganut sistem moving class. Jadi, setiap matkul temennya beda-beda. Mau nggak mau, harus beradaptasi dengen cepet karena biasanya dosen selalu membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk maju presentasi materi.

Nah, kalau di SMA, semua jurusan IPA, IPS, BAHASA sudah pasti berada pada satu lingkungan yang sama dong. Nggak terpisah-pisah yang harus ditempuh pakai bus atau kendaraan dulu.

2. Pelajaran
Di dunia kampus, kita akan bertemu dengan mata kuliah yang rasanya "kok kayak gini aja mesti dipelajarin, sih", tapi ternyata ketika kita masuk di dalam materi kemudian muncul rasa "alamakkk, ternyata..." (isi sesuai dengan penilaian masing-masing). Kenapa begitu? Karena di kuliahan kita sudah mulai diarahkan kepada perjuangan kehidupan sesungguhnya yang akan kita rasain ketika sudah lulus nanti. Jadi, pelajaran-pelajarannya juga sudah sangat menjurus ke konsentrasi jurusan kuliah kita. Kalau gue konsentrasi humas jurusan komunikasi, maka mata kuliah yang harus gue ambil pun beragam ada pengantar ilmu komunikasi, kegiatan humas, manajemen humas, penulisan humas, hukum dan komunikasi, psikologi komunikasi, metode penelitian sosial, metode penelitian komunikasi, KKL (Kuliah Kerja Lapangan/Langsung, seminar, dan terakhir skripsi. Tentu masih banyak lagi mata kuliah yang harus gue jalani tetapi nggak bisa disebutkan satu-satu karena saking banyaknya. Nahhh, yang paling membedakan adalah di bangky kuliah kita akan bergaul erat dengan yang namanya SKS. Apa itu SKS? Sistem Kebut Semalam? Bukan! tapi Sistem Kredit Semester. Istilahnya nyicil buat jadi sarjana. Kalau udah lunas (dalam arti sudah mencapai syarat sarjana) maka ita akan mendapat gelar di belakang nama. Jadi, dari awal semester  kuliah, kita diberikan maximal limit SKS. persemester, SKS akan ditabung dan pada akhirnya dikalkulasi untuk melihat apakah jumlah SKS kita sudah mencapai syarat untuk mengambil skripsi? (Di kampus gue, syarat untuk ambil skripsi minimal 126 sks, nah syarat untuk lulus sarjana adalah minimal 150 sks. Maksimal SKS yang bisa diambil mahasiswa persemester adalah 24 SKS (sesuai dengan jumlah IP Kumulatif persemester)). Rata-rata mahasiswa bisa ambil 21-22 SKS persemesternya.

3. Dosen
Berbeda jauh dengan guru. Kalau dalam hal kumpul tugas yang namanya dunia kuliah nggak ada toleransi atau nyusul-nyusulan kumpul tugas, Kalau nggak ngumpul tepat waktu, ya sudah lewatlah nilai tugas kita. Kecuali sudah ada kesepakatan dengan dosen. Untuk dapetin restu dosen buat kumpul tugas nyusul pun perlu perjuangan yang tidak bisa dikatakan mudah.

4. Jam kuliah
Kamu akan temuin kefleksibelan jam kuliah. Maksudnya adalah ada saat di mana jam kuliah kamu jumping misal dari sesi 1 (08.00-10.30) ke sesi 4 (15.30-18.00). Itu artinya dari jam 10.30-15.30 kamu punya waktu kosong yang bebas kamu gunain buat apa aja. Bisa tidur (numpang di perpus/kost-an temen/kost-an sendiri), bisa buat kerjain tugas, atau jalan-jalan. Tapi jangan lupa balik lagi ke kampus buat kuliah, ya.

5. Jatah Absen
Sebagian besar kampus menerapkan sistem minimal jumlah kehadiran setiap kelas 80% dari total pertemuan kuliah. Misal total 14x pertemuan, artinya kamu hanya boleh maksimal 3x nggak masuk di kelas itu. Itu merupakan kebijakan dari pemerintah. Jatah nggak masuk kelas itu berlaku maksimal 3x perkelas matkul. Berbeda banget dengan sekolah, kan? Kamu sakit seminggu juga nggak masalah asal ada kabar. Kalau kuliah, kamu mau sakit parah pun pihak kampus nggak akan pikirin karena ada banyak mahasiswa yang mereka urusin. So, masalah masuk atau nggak masuk kuliah, itu menajdi tanggung jawab kamu. Maka itu, hati-hati di jalan, jaga kesehatan, dan rajin kuliah.

6. Temen
Di dunia kampus, jangan harap untuk andelin temen, atau kita yang bakal jatuh sendiri. Di kampus adalah tempat di mana kamu belajar semuanya serba mandiri. Meski tugas kelompok, jangan tunggu-tungguan. Tapi harus punya inisiatif untuk memulai. Supaya apa? Supaya kamu bisa menyelamatkan dirimu sendiri dalam hal nilai khususnya, ya. Memang ada teman yang bisa diajak kerja sama, tapi ada juga yang hanya numpang nama untuk mendapat nilai. Jangan sedih/kecewa/apalagi baper. Hal itu sudah biasa, tugasmu adalah selamatkan dirimu. Toh, kalau kamu kerjain tugasnya, kamu akan menguasai isi tugasnya juga. Ini menjadi nilai lebih yang berpengaruh pada wawasanmu, apalagi kalau presentasi. Waah, kamu sudah menyalip sedikit dari temanmu yang hanya maunya numpang nama tadi Semangat! Dosen tau kok mana yang bekerja dan yang tidak.

7. Pergaulan
Di dunia kampus semua serba tanggung jawab kita. Mau nakal, ya urusan diri sendiri. Mau baik, ya urusan diri sendiri. Tentu, semua nggak luput dari segala resiko. Nahhh, maka itu pinter-pinterlah memilih teman. Kalau dari awal salah dalam memilih teman sepergaulan, maka akan sangat berpengaruh pada performa kita di kelas. Kalau temenan dengan yang suka main/ngeband, wahhh bisa-bisa kuliah kita berantakan karena nggak bisa me-manage waktu dengan baik. Apalagi biasanya jadwal sesi kuliah beda-beda.

Demikianlah beberapa point yang baru bisa gue sharing seputar dunia kuliah. Intinya, belajar teguh dengan pendirian, jangan mudah ikutan temen untuk main padahal seharusnya mau kerjain tugas. Inget, kumpul tugas nggak bisa ditunda, tapi jam main bisa ditunda. Gak usah pikirin temen yang bilang "ah lo gak asik, jarang ngumpul", dll. Cuek aja. Emangnya, kalo kuliah kita jadi keteteran mereka bakal tanggung jawab? Nggak akan, yang ada malah kabur dan cuek.
Satu kata "FOKUS!"

Gue berharap postingan ini bisa dikembangin lagi ya menjadi beberapa point kalau ada yang mau kembangin. Silakan menambahkan. Berhubung gue sembari kumpulin mood buat kerjain tugas, maka gue iseng tulis ini. Hehe. Jadi seadanya aja deh nih.

Sekian

Narwastu Christ Maharani
Humas-IISIP Jakarta

Senin, 22 Agustus 2016

Manusia! Mengapa Kau Begitu?

Kita semua tahu kalau setiap manusia punya jalan kehidupan yang berbeda-beda. Itu artinya, kita tidak boleh sembarangan menilai sikap dan perilaku seseorang hanya dari kacamata yang kita gunakan untuk melihat. Karena, jalan saja berbeda, tentu alasan dan sudut pandang juga berbeda.
Si A melakukan apa yang menurutnya baik dan benar, tetapi ternyata si B menilai itu tidak baik dan salah.
Kenapa demikian? Karena kita dididik dalam keluarga yang berbeda latar belakang yang meliputi budaya, prinsip, sudut pandang yang akhirnya mempengaruhi tumbuh kembang pribadi kita.
Tapi, bagaimana kalau hal itu terjadi di dalam satu garis generasi yang sama? Ya, namanya juga beda kepala, beda otak, beda pikiran, beda penilaian.
Tugas kita adalah bukan lagi berkeras hati dan pikiran untuk mempertahankan apa yang benar di mata kita untuk bisa diterima orang lain, tetapi kedua pihak harus seimbang dalam menumbuhkan tenggang rasa dan toleransi agar perbedaan itu menjadi suatu kolaborasi yang indah dan dapat dirasakan sesama.
Bukan lagi mengenai aku suku Jawa dan kamu suku Batak, atau aku keturunan Tionghoa dan kamu suku Sunda, melainkan kepada siapa kita akan mempertanggungjawabkan prinsip hidup yang dianut selama di dunia.

Kesimpulannya, berhentilah men-judge seseorang dengan pandangan sepihak kita. Sebelum mengungkapkan, coba telisik terlebih dahulu, 'kenapa ya orang itu berperilaku seperti itu?' dengan bertanya atau cobalah ambil posisi dengan membayangkan kalau kita berada dalam kondisi seperti orang tersebut. Akan terlihat lebih bijaksana ketika kita mampu menilai segala sesuatu dengan melihatnya lebih dekat. Yang lebih penting adalah Tuhan sebagai Sutradara kehidupan memiliki alasan tersendiri atas segala yang terjadi, yang tidak terselami pikiran manusia.
Semangat!
Tuhan Yesus memberkati


Kamis, 03 September 2015

2 Tawarikh 15:7

Helaw, udah lama banget gue pengen ngepost seputar lika-liku masa menuju ke hidup perkuliahan gue.
Gue baru lulus SMA tahun ini
Keluar dengan amat bangga karena akhirnya keluar dari kandang para serigala berbulu domba, yang dapat kita ketahui KKNnya tinggi banget
Gue lulus, tapi tidak dengan nilainya
Nilai-nilai yang kalau dari dekat terlihat do-re-mi, tapi dari jauh terlihat sol-la-si, sempat membuat gue sedikit terisolasi dalam keadaan murung 'tak berdaya.
Nilai-nilai itulah yang kini menghiasi lembar ijazah yang berlaku seumur hidup gue
Kisah ini gak ada awal dan gak ada akhir
Semua mengalir sesuai degan kehendak Sang Sutradara
Jadi, gue sempat terdoktrin dan berhikmat sendiri. Oke, ingatlah akan kalimat ini "Hikmat manusia adalah kebodohan bagi Allah"
Kalimat itu, kalau ditela'ah memang betul
Karena seringkali kita kejebak. Berdoa minta hikmat dari Tuhan, tanpa kita sadar ternyata kita berhikmat sendiri dan jalan pada jalan sesuai dengan kemauan kita sendiri
Setelah gue lulus dan dapet surat pernyataan kelulusan, gue langsung membuat ancang2 ke mana gue akan melanjutkan sekolah
Temen-temen gue udah ppada dapet kampus dari sewaktu mereka semester 1 kelas 3
Dan gak sedikit dari mereka yang berlomba-lomba bernegosiasi sama kepsek untuk naikin nilai raport (lewat jalur raport), atau memanipulasi peringkat dengan minta surat pernyataan peringkat di kelas supaya dapet potongan biaya kuliahan yang gede
Gue? "Hahaha fokus UN dulu ah," begitu pikir gue.
Karena waktu itu gue juga ngincer negeri, jadi gak ada niatan sama sekali untuk minta batuan sekolah yang gue rasa gak adil.
Gue banyak dibully, hanya kerena waktu ulangan-ulangan sekolah gue ga mau nyontek
Gak punya temen, karena dianggap manusia sok suci
Ok fine, gue gak sendiri!
Gue cuma gak mau, gu keluar sebagai lulusan yang gak bisa ngapa-ngapain tapi mau jadi doket, polisi, atau apalah yang keliatannya hebat-hebat
"Gak apa kalau nilai gue biasa-biasa, tapi gue bisa," gitu pikir gue.
Gue sangat berambisi masuk negeri, sampe akhirnya gue ikut seleksi nasional dan mandiri tapi gak lolos dikeduanya
Gue sempet merasa frustasi saat pengumunan seleksi mandiri
Gue bingung dan mulai takut dengan hasil seleksi mandiri yang soalnya terkenal lebih susah dari seleksi nasional
Gue nangis tapi sok tegar dan senyum-senyum depan keluarga
Gue juga bingung kampus swasta mana lagi yang masih buka dengan harga yang gak terlalu mahal
Karena waktu itu kondisinya bokap abis pensiun setahun lalu, adek gue lagi butuh masuk SMA, kakak gue ud married dan tentu urus anaknya, dan kakak gue yang kedua sedang berada pada jenjang karir yang baik namun gue gak terbiasa merepotkan doi
Karena selama ini gue dibiayain sekolahnya sama orang tua, jadi agak ada rasa aneh saat tau bahwa keadaan memaksa biaya sekolah gue selanjutnya ini akan di-cover kakak kedua gue.
Gue bingung, mau cari kampus yang gak mahal tapi bagus, rasanya udah telat
Gue ga punya jaringan kampus-kampus gitu
Sampe akhirnya gue ud putus asa, dan hampir gue ikut tes seleksi mandiri di kampus negeri lain tapi lagi-lagi dengan memilih jurusan yang tidak sesuai talenta gue
Tapi apa? Tuhan mau gue ikut tes di salah satu kampus swasta yang udah berdiri kisaran 60 tahun lamanya dan tentu udah berpengalaman dalam bidang pendidikan khususnya bidang komunikasi
Sesuai yang gue pengen banget!
Tes demi tes gue lalui, ada tes akademik yang terdiri dari matematika dasar, IPA aplikasi, bahasa indonesia, bahasa inggris, IPS terpadu, dan ilmu pengetahuan umum, juga ada tes kesehatan yang terdiri dari tes urin, tensi, tinggi dan berat badan, buta warna, serta ada psikotes yang lamanya minta ampun dan lumayan berhasil bikin mula dan pikiran waut-awutan setelahnya.
Waktu itu gue ditemenin bang Billy, ditungguin dari pagi sampe sore di kampus waktu tes. Aaaaakk, i heart you, bang!!!
Setelah selesai tes, gue berharap-harap cemas untuk lolos
Karena yang gue dengar, kampus itu juga jual mahal sama mabanya
Dari 100% peserta tes di tiap gelombang, akan disisihkan sebanyak 25% sebagai peserta yang gagal
Itu cukup membuat gue lumayan pesimis mengingat persiapan yang kurang maksimal namun agak lebih baik dibanding persiapan seleksi negeri
Tapi Tuhan Yesus baik, dan akhirnya gue lulus pada pilihan pertama dari 2 pilihan yang gue tuliskan di kertas pendaftar
Gue lulus di Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Hubungan Masyarakat atau kerennya Public Relation (hehehehe)
Oke yang bisa gu ambil maknanya adalah, ketika gue daftar di negeri, gue pilih jurusan yang aneh-aneh
Macam filsafat, arkeologi, yang gue tau passing grade nya gak terlalu tinggi di univ itu
Tapi apa? Ketidaklolosan yang gue alami atas seizin Tuhan, justru mengantar gue kepada bidang yang "gue banget"
Memang tidak di negeri, tapi paling tidak saat ini gue sudah terdaftar sebagai maba pada sebuah institut yang gak kalah ciamik deh lulusan-lulusannya
Semoga gue mampu menjadi pribadi yang lebih mampu bersyukur dan beradaptasi dengan lebih baik lagi dengan lingkungan hidup di manapun gue berada

Cintai bidangmu, bukan gedung kampusmu, atau bergengsi atau tidaknya kampusmu. Itulah yang akan membuat kamu bersyukur.
Kampus gak membuat kamu menjadi master, tapi bidangmu yang akan membuat kamu menjadi ahli.
Pesan moralnya, gak usah ngincer nama kampus yang beken dengan milih jurusan yang aneh-aneh padahal gak sesuai bidang/talenta
Bahaya, itu awal dari ketersesatan
Tapi, pikirkan selepas jadi sarjana, mau melangkah ke jenjang karir ke arah mana

Pengkhotbah 3:11 "Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

2 Tawarikh 15:7 "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu."
 Amin.
Tuhan berkati.


Maba IISIP Jakarta
Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
FIKOM-Humas

Selasa, 10 Februari 2015

Rahasia Sang Empunya Kehidupan

Banyak suka duka yang gue alami di masa-masa labil ini. Banyak hal yang menjadi bahan pembelajaran gue pada masa sukar di kehidupan remaja ini. Gak banyak yang gue ungkapkan, tapi banyak yang gue pikirkan. Mulai dari hal kecil, sampe hal besar yang entah apakah sesungguhnya itu adalah hal kecil yang gue besarkan.
Ok, di kehidupan SMA ini bener-bener gue mengalami yang namanya perhelatan batin. Tapi gue menganggap semua adalah berkat. Nggak gampang tentunya. Namun, semakin terbiasa mengalami justru akan semakin membuat diri merasa menjadi orang paling beruntung. Kenapa? Lo bisa rasain, kalo lo ada di posisi gue :)
Cuma nggak habis pikir aja, kenapa banyak orang yang menaruh rasa kesal saat sesamanya nggak melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Analoginya adalah seekor babi yang memaksa sapi untuk terjun berkubang di lumpur yang kotor. Sapi nggak akan mau lah, karena itu bukan habitatnya. Begitu juga yang banyak dialami anak muda zaman sekarang. Absurd. Hanya mementingkan pihak-pihak tertentu. Entah itu baik atau buruk.
Muak dengan segala keluguan yang dipura-purakan. Benci dengan segala ketidakadilan yang diakari oleh sikap nepotisme di dalam suatu lembaga. Lembaga pendidikan. Suatu bisnis menjanjikan untuk sebuah pencitraan, rupanya :)
Sebagai rakyat awam, yang bisa dilakukan mungkin hanyalah diam. Bukan tanpa tujuan. Tentu diam sambil mengamati sudah sejauh manakah nepotisme itu berkembang. Hingga pada waktunya nanti akan ada saat di mana pemberantasan terhadap sikap tersebut akan terkuak, dan pemberontakan terjadi di mana-mana.
Berbanding terbalik dengan pengalaman gue saat mengenyam ilmu bersama masyarakat mayoritas. Dengan pengalaman tersebut, gue banyak belajar tentang toleransi. Toleransi yang merata, tidak berat sebelah. Bukannya menyalahkan, ini hanyalah soal salah paham saja. Salah paham yang diperpanjang dan diperlebar. Melalui kisah hidup persahabatan dan pertemanan yang penuh lika-liku, gue diajarkan untuk berhati-hati. Berhati-hati untuk memberi hati kepada orang yang katanya mau jadi sahabat. Banyak yang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan yang dialaminya. Dan ternyata itulah yang gue alami.
Bersyukur. Sekali lagi bersyukur. Terima kasih tak terhingga karena pada akhirnya Bapa gue di Sorga menunjukkan siapa sosok itu sesungguhnya. Nggak usah disesali, kalo itu membuat dia nyaman, kenapa harus melarang? Bahkan orang tuanya saja justru membebaskannya memilih. Memilih teman.
Bukan masalah politik, tapi terdapat sifat politik yang tertanam di dalam kejadian itu.
Lagi-lagi, Tuhan mengingatkan gue untuk bersyukur.
Banyak hal yang Dia izinkan terjadi di dalam hidup gue. Meskipun nggak ngerti kenapa semua terjadi, tapi Dia selalu ingetin kalo ternyata selama ini gue nggak pernah sendiri. Diri gue lah yang membuat semuanya menjadi terasa sendiri. Manusia. Nggak pernah puas. Selalu minta lebih dari apa yang didapat. Suka nggak mikir kalo minta sesuatu sama Tuhan.
Sekarang, gue serahin semua rencana dan harapan gue setelah lulus SMA ini ke Bapa di Sorga. Gue tau rancangan-Nya terbaik. Dia tahu betul porsi gue mesti duduk di mana. Dia tahu betul kapasitas gue mesti diletakkan di mana. Berserah. Berserah. Nggak berhenti berserah. Gue berharap di sana. Kalo Tuhan sudah berkehendak dan berkata 'jadilah', ya pasti akan terjadilah... Amin.

Senin, 27 Oktober 2014

Jalan Tuhan Bukan Jalanku, Namun yang Terbaik Untukku

Pada postingan kali ini, gue mau cerita sedikit eh banyak deng tentang pengalaman dalam dunia persekolahan gue.

Oke, gue adalah seorang siswi SMA sebuah sekolah swasta di kawasan elit Kotabumi, yang amat terkenal karena letaknya yang amat dekat dengan pusat perbelanjaan sembako, Giant Express. Gue memang polos, tapi tidak tepos. Sekolah yang gue tumpangi sebagai mediasi untuk mengenyam pendidikan SMA selama hampir 3 tahun ini, letaknya tepat di belakang bangunan besar yang plangnya lebih berwarna dibanding plang sekolah gue sendiri. Oke ini gak penting.

Kebetulan, gue SD di sekolah ini juga. Sebut saja sekolah X. Zaman gue SD (2003-2009), tentu bangunan Giant Express yang saat ini menjadi tameng sekolah gue belum ada. Semua masih tanah kosong yang lapang dada #eh!. Bahkan, tidak jarang anak-anak kecil banyak menggunakannya sebagai lapangan futsal ekonomis karena wujudnya yang memprihatinkan. Namun, nampaknya keprihatinan itu jauh lebih meningkat setelah bangunan Giant Express dibuat. Entah makhluk dari mana yang menyetujui pembangunan bangunan tersebut tepat di depan sekolah gue berada. Alhasil, sekolah yang didirikan oleh para suster TMM sejak 20-an tahun silam hampir tenggelam ketenarannya di Kotabumi tercinta ini. Tapi, semoga aja presiden kita yang baru macam pak Jokowi mampu membantu meningkatkan ketenaran positif sekolah tercinta gue kembali. Hehehe...

SD
Dulu, waktu menjelang UN SD gue ngebet banget sama yang namanya SMPN 5 Tangerang. Letaknya di perempatan lampu merah arah ke Kalideres. Entah kenapa, sekolah berlapiskan cat tembok kuning-biru itu dulu bikin gue kesem-sem. Gue sadar, salah satu motivasi gue ingin masuk di sekolah negeri itu adalah karena gue melihat teman main hampir sebaya yang usianya 2 tahun di atas gue sekolahnya di negeri. Lebih tepatnya SMPN 2 Tangerang. Auw! Dengan sikap penuh kerendahhatian atau mungkin kerendahdirian (?), gue memilih untuk berangan-angan bisa masuk di SMPN 5.
Waktu pengumuman hasil UN pun tiba. Gue sungguh amat nggak sabar melihat selebaran yang menyatakan gue lulus dengan NEM ya kalo bisa di atas 30,00 (padahal cuma 3 pelajaran).
Gue sempet deg-degan, waktu acara perpisahan semua anak yang punya NEM >27,00 orang tuanya akan diundang dateng ke acara perpisahan. Ada beberapa anak yang dipanggil, tapi kok gue nggak (?)
Dengan perasaan dengki dan iri, gue menangis di tengah keramaian kota yang usang. Sedih. Dahsyat. Hancur. Halah.
Ternyata, gue dapet NEM 25,30. Ah Puji Tuhan dan harus bersyukur karena paling tidak Tuhan memberikan angka 8 untuk usaha dan kerja keras yang sudah gue lakukan selama ini menjelang UN dan 6 tahun KBM. Ya, setidaknya gue bisa menorehkan angka yang lumayan 'apik' untuk dipertontonkan kepada anak-anak gue kelak. Tapi eh tapi, angan gue untuk masuk ke SMPN 5 Tangerang batal total (bukan gagal! Tolong bedakan antara gagal dengan batal, please!) karena nyokap gak izinin gue sekolah jauh-jauh. Selain karena pertimbangan ongkos, pertimbangan kalo hujan dan macetpun turut berargumen di sana. Gue sempet nangis dalam menentukan pilihan sekolah yang gue mau. Merasa pupus dan lenyap sudah harapan gue. Dulu, gue udah mikir kalo nantinya gue bisa masuk di SMPN Tangerang, kesempatan gue bisa masuk di SMAN Tangerang pun lebih besar. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Akhirnya gue mendaftarkan diri dengan membawa beberapa persyaratan berkas-berkas yang dibutuhkan ke suatu sekolah negeri juga. Ya, paling nggak gue tetep masuk di SMPN 5 lah. Hanya aja, embel-embel belakangnya yang beda. Yang gue ingini adalah SMPN 5 Tangerang, tapi yang Tuhan kehendaki adalah SMPN 5 Pasarkemis. Hehehe...
Tapi nyatanya, Tuhan tetep mempercaya gue untuk bisa terus menorehkan prestasi di sana. Meskipun harus melalui rintangan dan ujian yang cukup berat apabila diukur dengan kemampuan seorang siswi remaja SMP kala itu.

SMP
Saat gue kelas VIII, sempet ikut OSN untuk mata pelajaran IPS Terpadu yang bertahan hanya sampai tingkat kabupaten, yakni kab, Tangerang. Waktu itu tes pertama tinkat kecamatan di SMPN 1 Pasarkemis, dan gue lolos 10 besar. Dari sekolah gue mengirimkan 2 peserta untuk masing-masing mapel seperti Matematika, Biologi, Fisika, dan IPS Terpadu. Di mapel gue, hanya gue seorang yang lolos. Tapi di mapel lain, rata-rata dua-duanya lolos. Tanpa persiapan, karena istilahnya gue adalah peserta cabutan dalam artian mendadak diutus. Alhasil, gue belajar SKS. Lagi-lagi gue bersyukur karena diizinin ngerasain berkompetisi di dalam sebuah kompetisi yang bener-bener kompetisi dan juga disandingkan untuk berperang dengan orang-orang yang jauh lebih pinter dari berbagai sekolah. Kalo gak tau, ya lewatin. Bukan malah nyontek, dsb. Yaiyalah gimana mau nyontek, gak kenal semua. Lagipula di sini kita sedang berkompetisi mempertaruhkan nama baik sekolah.
Sewaktu gue kelas IX, gue juga sempet merasakan yang namanya menginjili. Secara gak sengaja, gue menginjili temen baik gue yang sedang penasaran sama ajaran di keyakinan gue. Ya, meski terkadang gue juga sering terinjili oleh Asma'ul Husna, Wal'asri, daaaan sebagai-bagainya dari mereka yang setiap pagi selalu apel. What a great experience!

SMA
Lanjut, pas gue SMP pengen banget masuk SMAN Tangerang. Tapi gue sadar akan posisi wilayah sekolah gue berada. SMPN 5 Pasarkemis terletak di ujung kabupaten Tangerang, perbatasan antara kota Tangerang dengan kabupaten Tangerang. Miris memang, sangat berasa dianaktirikan sama Pemkot Tangerang kalo kayak gini. Hikssss. Jadi, di kebijakan pemerintah daerah gue, setiap siswa/i yang ingin masuk ke sekolah di Kota yang asal sekolahnya dari kabupaten, akan bisa diterima dengan terlebih dahulu mengikuti seleksi NEM dari masing-masing sekolah. Biasanya, yang diutamakan adalah mereka yang asal sekolahnya memang berasal dari kota itu sendiri. Kalo berasal dari luar kota tersebut, NEMnya akan dipotong sesuai perhitungan yang sudah ditetapkan. Kursi yang mereka sediakan bagi siswa/i dari luar kota hanya 5% saja. MIRIS!
Gue sempet berusaha untuk menginput NEM gue dengan mendaftarkan diri dengan pedenya ke SMA 15 Tangerang. Sekolah baru yang ternyata ramai peminat. Dengan NEM 33,85 gue berusaha memasang tampang tembok saat melihat jumlah NEM di muka map-map para pesaingers gue kala itu. Rata-rata NEM mereka 36 ke atas. Tiba saatnya gue dipanggil untuk input data-data, ada salah seorang guru yang bertugas menginput data mengatakan "kamu yakin mau ngelamar 3 sekolah itu? Di sini aja (SMA 15 Tng) paling rendah udah 36an lho. Saingan kamu kan sama anak-anak kota. Kalo mau, lamar di SMA 10, 13, sama 14 pasti dapet". Gue yang memang dari awal sudah pesimis (selain karena sebel akan aksi curang temen-temen seperjuangan waktu UN), hanya tersenyum mlesam-mlesem denger support nyentek dari bapak itu. Gue sempet mikir apa coba aja ya? Tapi pas gue tanya di mana lokasi sekolah-sekolah itu berada ternyata naujubilah. Ya gak heran sih kalo passing gradenya agak rendah. Karena selain jauh, ada juga yang ternyata letaknya agak ke pedalaman. Meskipun wilayahnya tetep masuk dalam wilayah kota.
Tibalah waktunya untuk pengumuman! Gue udah siapin mental kok takut-takut gak keterima. Dan hasilnya memang gak keterima. Gue memaknai itu sebagai bukan jatahnya gue. Gue imani, sama seperti waktu SMP, Tuhan mau pake gue di tempat lain. Dengan wajah lesu dibahagia-bahagiain kayak orang gagal kawin, gue meninggalkan jejak bisu di koridor SMAN 15 Tng sambil berlari kecil sambil rambut beterbangan ditiup angin nan sepoi. Sambil mengusap air mata, aku berlutut di tengah lapangan sambil menengadahkan wajah ke langit dan berteriak "ku akan menemukan penggantinya!!!" (kayak lagunya Winda, tapi ini versi ke"akan"annya). Drama banget, men! Gak gitu lah!
Akhirnya, gue menjatuhkan pilihan ke SMAK tempat gue menimba ilmu saat ini dan tinggal beberapa bulan lai gue lulus! Gue lulus! Gue lulus! Rasanya gak akan habis cerita yang bisa gue bagikan ke temen-temen mengenai pekerjaan Tuhan yang gak disangka-sangka. Siapa sangka, ternyata di sekolah ini gue sempet dipercaya untuk melayani sesama dengan menjadi waketos, setelah lengser akibatnya gue didudukkan pada sebuah kursi ketos. Sungguh kuasa Tuhan yang bekerja. Gak mudah dapetin itu semua. Dari sekolah ini pula gue dikirim ke Eagle Hill untuk ikut jambore IM3 dan hasilnya gue terpilih jadi 'duta IM3 Tng' dari sekian banyak peserta yang ikut camp.
Saat ini, bentar lagi, akan tiba saatnya gue menitahkan masa jabatan gue ke penerus yang tentunya harus lebih baik, lebih komitmen, lebih loyal, lebih berdedikasi, lebih aktif, lebih lincah, lebih tanggap, lebih cerdas, lebih profesional dari yang sebelumnya. Sama sekali gue gak merasakan malu kalo ada yang mengkritik kinerja gue selama ini. Toh, gue sudah berusaha melakuakan yang terbaik semampu gue. Memang terkadang terbawa ego sehingga gak mampu menyelesaikan suatu pekerjan dengan baik dan tepat waktu, tapi gue percaya dan yakin dengan amat sangat apa yang gue alami ini adalah sebagai bekal masa depan gue entah itu di dunis perkuliahan atau bahkan dunia sosial yang lebih nyata lagi nanti setelah lulus kuliah. Semua yang udah gue timba, entah itu dengan baik atau kurang baik, semua akan menghasilkan yang terbaik kok di mata Tuhan. Entah orang melihat selama ini gue sebagai apa, gue selalu berusaha mampu menempatkan diri gue dengan baik. Di tempat gue menimba ilmu ini, gue mendapat banyak pengajaran tentang moral dan moril, etika dan etiket, serta pengajaran tentang membaca karakter orang an gerak gerik orang dalam berbagai situasi. Untuk punya intuisi yang tajam, bisa dilatih kok. Sering-sering aja berhadapan dengan orang yang menurut kalian menyebalkan, dengan sendirinya tubuh, jiwa, dan roh kalian akan dengan sendirinya mampu mengatasi perbedaan karakter orang-prang di sekitar kalian. Melalui pengalaman yang gak akan berhenti bekerja, cepat atau lambat alam akan menjadi saksi dan menyeleksi siapa-siapa saja yang lolos uji. Mesi seringkali harus ada air mata yang lewat, it's no problem lah...

Intinya, gue selalu punya warna di masa-masa sekolah gue. Di saat gue mau berusaha, tapi lingkungan gak mendukung, atau saat lingkungan sudah mendukung tapi guenya yang kurang usaha. Gue selalu berusaha mengucap syukur dan senyum tiap kali ada kepahitan yang dateng. Berbagi kesusahan dengan temen yang dipercaya, gak membuat makin lemah kok. Justru kadang Tuhan pakai orang lain untuk menasihati kita, untuk menyampaikan kehendak-Nya. Gue imani, melalui kejadian kebatalan gue sebanyak dua kali untuk masuk di sekolah yang gue ingini, Tuhan mau gue terus semangat. Dia mau gue terus inget sama karya ajaib Sang Pencipta Khalik dan Bumi. Gak terpikirkan semua apa yang waktu itu dan sekarang gue alami. Bukan gak mungkin gue tidak menjadi sesuatu atau apa-apa kalau aja waktu itu gue kekeh ikutin kehendak gue masuk di sekolah yang gue 'pengenin'. Tuhan tahu dan akan memenuhi apa yang kita butuhkan, bukan inginkan.
Saat ini, gue kembali sedang berharap sama Tuhan. Sebentar lagi gue akan menghadapi UN beserta personil-personil unyuknya. Setelah itu tes SBMPTN. Gue amat berharap bisa lolos di salah satu PTN yang gue tuju. Tujuannya adalah untuk ngeringanin beban ortu, dan siapa sih yang nggak bangga punya anak, adek, mbak yang sekolah di PTN favorit. Bahkan kalo bisa, gue dapetin scholarship sepanjang kehidupan ngampus gue selama 3,5 tahun nanti. Setelah gelar sarjana gue dapetin, lanjut deh dapet scholarship magister, sampe jadi doktor nantinya. Amin! Intinya sih, berusaha dan berusaha. Jadikan yang lalu sebagai pelajaran. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Tuhan punya hari depan yang cerah dan penuh harapan. Jangan menghalalkan berbagai cara waktu kepepet, nyontek misalnya. Ah meski terkadang godaan itu cenderung menerpa. Udah kelas 3, yang dibutuhin itu bukan sekadar nilai bagus tapi gak bisa apa-apa, melainkan harus bisa apa-apa meski gak apa-apa kalo nilainya gak seberapa. Gue harus yakin, gue pasti bisa! Makasih gak terbendung buat bapak, ibu, mbak ai, mas tian, dek ica yang selalu dukung dek anik buat gapai cita-cita dan selalu nasihatin dek anik!!! Aaaaak! UUUUUIIIIIIII!!! I'M COMING!!!

Satu lagu yang gue favoritkan banget sampe saat ini:

Ada waktu di hidupku, pencobaan berat menerpa
Nantikan Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya
Hari esok tiada kutahu, namun tetap langkahku maju
Kuyakin Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya
Reff:
Pada Tuhan masa depanku, pada Tuhan kus'rahkan hidupku
Nantikan Tuhan berkarya indah pada waktu-Nya

Jalan Tuhan, bukan jalanku
Jangan bimbang ataupun ragu
Nantikan Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya

AMIN............................................
I love RIANNIZA HM Family

Jumat, 10 Oktober 2014

Pembelaan Diri

Halo blogger, sekian lama tidak berjumpa. Rasa rindu yang mendalam tengah melandaku mengiring ide-ide di otak yang terus meronta-ronta ingin diaplikasikan ke dalam sebuah tulisan. Pada kesempatan inilah kiniku mampu mengutarakan aspirasiku selama menjalani kehidupan di dunia putih abu-abu.

Perkenalkan, namaku Lulu. Ya, memang banyak sekali orang bernama Lulu di dunia ini. Tapi perlu kalian ketahui, aku berbeda dengan Lulu-Lulu lain yang tengah menyebar di sekitar kalian.
Aku seorang siswi SMA yang sesungguhnya tidak terlalu tertarik untuk tahu-menahu tentang kehidupan orang lain. Tapi apa daya, kewajibanku sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi di sekolah membuatku harus berbuat demikian. Sebenarnya, perasaan itu muncul baru-baru ini. Pada awal masa tanggungjawabku, aku masih enjoy dan sangat amat peduli. Namun, entah karena satu dan lain hal yang melandaku, perasaan itu mulai muncul. Ya, hal tersebut dibarengi dengan perubahan lingkungan sekitarku yang makin berkelompok-kelompok, hal itu membuat aku merasa terkucilkan dari lingkungan di mana aku berdiri. Untungnya, aku masih memiliki satu orang sahabat nyata yang mampu memahamiku. Lagipula pada kenyataannya, aku masih memiliki banyak jaringan pertemanan mulai dari laki-laki, perempuan, sampai anak-anak kecil yang setiap minggu kutemui dan ternyata mereka cukup menjadi malaikat-malaikat penolongku. Hehehehe.
Aku selalu berpikir, mengapa seseorang ketika berada pada titik terendah di hidupnya, selalu mencari cara untuk membela diri? Sehingga dengan senang hati menghalalkan segala cara untuk membenarkan dirinya di hadapan manusia-manusia dunia yang cukup terkenal dengan kemunafikannya. Mencari sebuah pembelaan kepada dunia, adalah fana menurutku. Maka, setiap kali aku dipandang salah oleh dunia pun aku berusaha untuk tidak mencari pembelaan entah itu dari sekitarku, bahkan dari orang lain yang tidak tahu menahu pasti akan permasalahan yang mungkin aku alami. Biarlah orang lain sendiri yang menilai bahwa aku patut dibela atau tidak. Sebab aku yakin, hanya dengan penyerahan diri kepada Tuhanlah nantinya secara alami akan ada orang-orang berbondong-bondong datang akan menyokongku.

Aku juga selalu berpikir, kenapa bisa ada yang namanya "iri"? Bukankah iri melelahkan?
Setiap orang yang tidak mampu mendapatkan "sesuatu" yang diinginkannya, cenderung mencari berbagai cara untuk menghancurkan lawannya (bisa dikatakan apapunlah, intinya seseorang yang dianggap mengancam kenyamanan hidupnya).
Mata manusiaku memandang, mungkin orang-orang seperti itu hanya "suci" saat ia berada di dalam batas suci rumah ibadatnya (agama apapun), hal tersebut dilakukan sekadar memberi citra untuk menaikkan pamornya di hadapan orang-orang tertentu yang melihatnya. Namun, tetap saja saat keluar dari sana ia akan kembali menjadi harimau bagi sekitarnya.
Yaa, biarlah ini menjadi pengalaman kisah masa SMAku. Aku tidak menganggapnya kelam, karena ini adalah bagian dari rencana Tuhan.

Sekarang, aku tidak mau banyak bicara. Menjadi seorang Lulu yang tengah beranjak dewasa dan lebih senang mengamati tingkah laku orang-orang di sekitar. Entah bagaimana orang di sekitarku berpendapat, aku lebih senang menikmati duniaku sendiri tanpa melibatkan orang-orang 'baik' yang ada di sekitarku khususnya di sekolah. Saat aku merasa terancam, aku tidak mencari kambing hitam. Tapi kenapa dia, dia, mereka seperti itu? Ya, itu pilihan hidup.

Sebagai anak dari pengusaha kelapa sawit di pelosok Kalimantan yang tinggal jauh dari orangtua, tidak mampu membuat nyaliku menjadi kerdil hanya karena mengalami hal demikian. Namun, dengan kesempatan itulah aku terus mengasah mentalku untuk mampu berdiri sekalipun berada jauh dari tiang dan pagar ku (baca: orangtua).

Sekian curahan hatiku, seorang gadis lugu berusia 15,5 tahun yang ternyata menyimpan beragam rahasia dunia yang tidak satupun manusia di dunia ini tahu, selain aku dan Tuhan. Ya, itu rahasia pribadiku sendiri bersama Sang Khalik.

With love, Lulu Pramewaryani.